Showing posts with label Ateira Niskala. Show all posts
Showing posts with label Ateira Niskala. Show all posts

2/11/12

Mimpi dan "Mimpi"

"You take a big leap. While so hard for me to take a simple step."

"Follow me."

Ia kemudian berjalan menyusuri jalan setapak bagaikan ninja. Melompat sangat cepat hingga kulihat wujudnya terbagi menjadi serpihan partikel yang semakin lama semakin menipis. Argh! Sesak sekali rasanya dada ini. Berat pula kakiku untuk melangkah mengikutinya. Tak sedikitpun kata yang dapat meluncur dari tenggorokan. “Tungggu!”

Putih.

Paralysis nocturna kembali menyapa, rupanya. Satu step di antara keadaan tidur dan tidak tidur yang membuat mimpi terasa seribu kali lebih nyata. Dan kini, sosok dalam paralysis nocturna menjelma menjadi Musa.

Bagiku, mimpi tak hanya bunga tidur. Banyak ikatan yang tak dapat dideskripsikan melebur menyelusup dalam alam bawah sadar dan mewujudkan dirinya dalam mimpi. Aku sangat mempercayainya.

Akh! Hell with it. Hari ini aku berjanji bertemu Kalea. Sepulangnya dia dari luar kota kemarin, dia mengirim pesan pribadi di twitter yang berisi ajakan bertemu di tempat ngopi favoritnya.

Ketika mengunci kamar, ujung mataku menangkap sosok Julian baru keluar lift.

“Tei!”

“Juliaaaannn! Long time no see! Denger-denger abis dari luar, ya? Kyna juga kemarin baru banget pulang dari London. Wah, looking forward for a full team meeting dalam rangka bagi-bagi oleh-oleh yaaa! Hahahaha,” aku merangkul Julian dengan hangat.

“Iya, baru pulang dari Belanda untuk urusan kerjaan. Oh iya, kenalin ini adik saya, Pavel. Pavel, ini Ateira,” ujar Julian. Pavel memindahkan semua tas belanjaannya ke tangan kiri, sebelum menyodorkan tangan kanannya.

“Wow, looks like someone had helped raising my country’s income by shopping a lot at factory outlet! Hahaha. Nice to meet you, Pavel!”

“Haha, iya, semua ini gara-gara Julian. Dia membelikan saya semua barang yang saya pegang. Senang juga berkenalan dengan kamu, Tei,” ujarnya.

“He? Bisa ngomong Bahasa Indonesia, toh?” aku membalas sambil tergelak.

“Ya, Bahasa Indonesia Pavel sangat fasih,” Julian memberitahu dengan bangga.

“Anyway, aku ditunggu Kalea nih. Lain kali ikut ngopi-ngopi yuk kalau lagi santai. Tadinya aku ajak semua, tapi Ori dan Kyna sedang ada reuni dan Naila ada liputan. Mardi juga berhalangan siang ini. Jalan dulu ya Julian, Pavel, sampai jumpa!” Kami meneruskan jalan masing-masing, dan aku langsung menuju tempat kopi favorit Kalea yang letaknya tak terlalu jauh dari Seguni.

***

Tak butuh waktu lama, aku mengenali sosok Kalea di balik atasan fuschia dan kalung turquoise-nya. Warna yang juga aku sukai. Mungkin aku langsung melihatnya ketika memasuki coffee shop ini bukan karena dia Kalea, tapi karena paduan warna itu memang selalu menarik perhatianku.

Beberapa waktu, aku menikmati pemandangan sekeliling. Tempat duduk kami berupa sofa di pojok, dengan jendela besar yang langsung menghadap trotoar lebar.

“Mungkin aku akan segera pindah, Tei,” Kalea mengatakan kalimat itu tanpa mengalihkan pandangan dari es coklatnya.

“Maksudmu?”

“Bosku memberikan pekerjaan yang lebih menjanjikan. Di Jakarta.”

“Wow, selamat, Kal! That’s good! Ah, semua orang di sekelilingku tampak mulai merintis karir sementara aku masih menunggu kepastian. Bersyukurlah, Kal, mungkin banyak rekanmu sesama kontributor yang mengharapkan panggilan itu!” aku tertegun beberapa detik sebelum mengatakan itu. Mungkin ucapan selamatku pun terdengar sumbang. Pertama, karena aku masih saja menunggu celah untuk majalah yang aku cita-citakan sejak dulu. Kedua, karena aku bingung harus ikut senang atau sedih. Pasalnya kami baru saja saling mengenal dan aku sudah menyukainya. Beberapa detik pula, Kalea tak kunjung menolehkan muka.

“Why, Kal?”

“Aku tak yakin aku ingin. Memang lompatan yang bagus untuk karirku. Pun ada beberapa hal yang mengharuskanku pergi dari sini. Tapi aku tidak ingin. Dan jangan bilang bahwa kita harus memilih yang harus kita lakukan, bukan yang kita inginkan. Karena semuanya tak pernah semudah yang dikatakan,” ujarnya.

“Kamu benar. Aku, justru beberapa kali ingin sekali pindah dari kota ini. Ada hal-hal yang terus membayang selama aku menyusuri setiap jalannya. Tapi aku tetap di sini, karena aku ingin merintis usaha serta karirku. Lantas terpikir bahwa aku ternyata tidak seingin itu untuk meninggalkan kota ini beserta seribu kenangan di dalamnya. Hehe. Kau? Apa alasanmu?” aku kemudian menunggu jawabannya beberapa saat.

“Errr, aku merasa harus meninggalkan kota ini karena awalnya, aku pikir itu satu-satunya hal yang bisa menghapus semua kenanganku. Hahaha. Kamu, baru putus juga, ya?” Kalea akhirnya tertawa.

“ Percaya atau tidak, Kal. Aku baru putus dan langsung menerima undangan pernikahan mantanku. Hahaha!”

“Jah? So Sad. Itulah kenapa kau selalu menghindar dari topik pernikahan?”

It’s freaking me out! Dan bayangan Musa lalu seperti menari-nari mengenakan pakaian adat sambil mengucap ijab kabul di kepalaku,” ujarku sambil tertawa. Lagi-lagi sumbang.

“Hahaha, please deh, susah tau ngebayangin berucap ijab kabul sambil nari-nari. Lalu, apa kepastian pekerjaan yang tadi kau sebutkan?”

Aku kemudian bercerita mengenai cita-citaku yang tak sembarang orang tahu. Yang kuanggap begitu agung. Mengabulkan franchise Mariah Tunsell, majalah asal Amerika yang fokus utamanya adalah craft dan garden, serta sedikit tentang interior design. Sebuah majalah dengan konsep yang belum ada di Indonesia. Di negaranya, Mariah begitu terkenal sebagai stylist nomor satu. Ia memiliki acara TV sendiri dengan rating yang luar biasa. Itulah mengapa Bliss Flowery lahir. Sejak kuliah pun, aku sudah menjadi kontributor dalam membuat table setting dan craft di majalah-majalah ternama. Namun untuk mengabulkan franchise itu, terlihat masih jauh sekali prosesnya.

“Keren banget, Tei! Itu baru yang namanya cita-cita! Kau tahu, sampai umurku sekarang, aku tidak tahu apa sebenarnya cita-citaku,” ujar Kalea.

“Setidaknya kau satu langkah lebih maju dariku, Kal. Bekerja pada media nomor satu! Aku punya cita-cita yang mustahil dan akhirnya sampai sekarang tidak menghasilkan apa-apa. Eh, ngomong-ngomong, kalau mediamu butuh stylist untuk table setting atau apapun itu, atau sekalian bisa aku promosikan bayi kecilku si Bliss Flowery, aku sangat berterimakasih, loh. Hihihi. Lumayan untuk porto.”

“Kirim dulu coba portonya, nanti aku bicarakan dengan bos. Eh, sepertinya aku sudah tahu keputusanku, Tei.”

“Maksudnya?”

“Untuk pindah atau tidak. Eh iya gak ya? Labil! Hahahaha. Anyway, kumpul-kumpul lagi yuk selantai 15?”

“Ayok banget! Nanti malam aku mau ke Mardi, ada perlu mengembalikan sesuatu. Mungkin nanti sekalian ajak dia juga. By the way, dua minggu lagi Bliss anniversary yang pertama. Kalian bakal jadi tamu kehormatan, pokoknya!”

“Wih, seru! Ngomong-ngomong, boleh aku ikut ke tempat Mardi nanti malam?” tanya Kalea.

Aku mengangguk senang.

Ateira Niskala

1501

1/26/11

May Day!

Kadang ingin aku berkata, tepat di depan mukamu. “Kau pikir kamu siapa? Sudah merasa hebat mengambil dan merubah semua yang kumiliki?” Kau, perempuan barbie yang benar-benar tak pernah ku mengerti.

Temanku pernah berkata, jangan kamu terlalu menyepelekan orang. Termasuk orang yang pertama menjerit jijik ketika melihat ada seseorang mengenakan hand bag palsu, padahal warna rambut, bulu mata, dan kulitnya sendiri sudah palsu. Dan sayangnya temanku itu benar. Perempuan barbie itulah yang merenggut kebahagiaanku. Perempuan yang awalnya sama sekali tidak masuk perhitungan untuk bisa menaruh setitik debu pun dalam kehidupanku.

Well, still I disbelief why she could.


Perempuan itu kemarin mengajaku berteman di facebook dan memberi pesan pada friend’s invitation yang berbunyi : ”Hai, salam kenal. Udah terima undangan gue, kan?” Wow. Salam perkenalan yang hangat sekali, twag’! Kami pun berteman di facebook dan ujung-ujungnya membuatku repot sendiri. Sedikit-sedikit mengirim personal message, menanyakan bagaimana menurutku keputusannya untuk menikah dengan Musa. Bagaimana sosok Musa di mataku. Bagaimana caraku menyelesaikan masalah dengan Musa jika kasusnya seperti ini, seperti itu, atau segalanya. Segalanya ia tanyakan. Kenapa tidak sekalian tanya, jika berciuman denganku, apakah Musa memutarkan kepalanya ke kiri atau ke kanan?!


Ke kanan, dimulai dari kemiringan 45 derajat.


“............”


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku cepat dan membuang bayangan itu jauh-jauh. Menjijikan.


***


Belum berhasil aku bertemu dengan Elora. Ketika aku hampiri kamarnya tempo hari usai undangan Mardi Wisesa, ternyata ia harus segera bergegas menemui klien yang bermasalah. Bad mood karena katanya sang klien bertengkar dengan calon mempelai. Hebat sekali wanita itu. Bisa-bisanya menyerahkan waktu yang ia punya untuk mengabulkan impian seseorang yang sedang menjadi ratu sehari. Entahlah, semoga kami bisa segera berjumpa. "Need advice from the expert," ujarku sambil tersenyum sebelum meninggalkan ruangan Elora ketika itu.


Aku bingung memilih dan hanya berdiri kaku di antara pintu-pintu yang sudah tertutup. Sejujurnya aku belum puas dengan keriaan di kamar Mardi Wisesa. Aku membutuhkan teman. Aku tidak berani membiarkan diriku sendiri dengan pikiran-pikiranku. Tapi... masih terlalu bingung untuk menemui siapa dan membicarakan apa.

Malam itu akhirnya aku menghabiskan waktu dengan berdiam di balkon kamar. Memandang kerlip lampu di kejauhan sambil memintal benang penahan sakit yang sewaktu-waktu selalu timbul. Timbul begitu saja namun butuh beberapa waktu untuk tenggelam lagi. Aku tahu, suatu hari aku akan menengokan hati pada saat ini dan aku akan tersenyum... atau bahkan menertawakan diriku sambil menoyor kepala sendiri. Ketika itu aku sudah bahagia bersama...


ASTAGA.


Pernikahan Musa tinggal 10 hari lagi. Aku sudah tahu akan membawa bunga apa, tapi..... Aku pergi dengan siapaaaa?!


Panik!

Ateira Niskala

8/25/10

Minggu Tak Bisa Menunggu

Aku sebenarnya tak pernah mengistimewakan hari Minggu. Tapi kali ini, ini Minggu pagi dan aku sudah bangun! Daya tahan tubuhku memang luar biasa. Setelah kurang makan selama seminggu terakhir, kemudian hujan-hujanan kayak orang gila dua hari lalu, ditambah begadang menyelesaikan seluruh deadline hingga lewat tengah malam, pagi ini aku masih bisa bangun dengan kondisi sangat prima.

Aku beranjak dari kasur dan sebatang rokok tahu-tahu sudah menclok di bibirku, menyusul api dari lighter yang kunyalakan sambil membuka pintu menuju balkon. Bagus, cuaca Bandung cerah. Ditambah deadline yang sudah beres dan monthly income report Bliss yang sangat memuaskan, life is good, I guess! Ku tenteng gitar dan menggenjreng seenaknya. I know it sounds funny but I just can't stand the pain…Boy I’m leaving you… sebait lagu milik Faith No More, “Easy”, kubawakan sambil senyum-senyum.

Jangan tanya kemana perginya perasaan depresi yang kemarin mendera. Jika itu terjadi padaku, aku tinggal yakin suatu saat akan tiba saatnya semua menguap begitu saja. Inilah buktinya. Jangan heran juga jika kebulatan tekad ini mudah terdistraksi oleh hal-hal kecil. Yang penting saat ini, aku merasa diriku yang hilang telah kembali! Hooouoo, easy like Sunday Mooorning…!

Aku mengeluarkan Brenda yang berisik mencakar-cakar kandang minta disapa. Wajar, kelinci tipe fuzzy loop ini sudah masuk usia puber. Kuangkat Brenda ke depan wajahku, memasrahkan hidungku dijilat kecil-kecil. Hihi, aku selalu suka rasanya… Eh? Itu? Errr, sweater milik siapa? Aku meraih sweater biru yang teronggok begitu saja di sebelah vas bunga ketika ponselku bunyi. Bip pip.. Event : Gathering at Mardi Wisesa’s. Gawat! Hampir lupa! Sweater pun melayang entah ke mana.
***

Sangat tergesa-gesa, aku memarkir kendaraan di parkiran Bliss. Inilah nasib orang ceroboh. Semuanya harus dilakukan dengan tergesa-gesa. Pandanganku terpaku pada bunga matahari yang baru bermekaran. “Wah! Bunganya besar sekaliiiiiiii!” aku terpekik riang. Pupuk yang dibawakan eyang dari Majalengka ternyata benar-benar magis! Oke,
tanpa membuang waktu aku memeriksa laporan keuangan yang pasti akan memakan waktu cukup lama. Ditambah mengecek jenis pesanan dan ketersediaan barang. Setelah beres, aku ambil bunga Freesia yang sudah aku pesan tempo hari. Turquoise. Senada dengan Kate Spade bag-ku. Ah, enggak penting! Haha. Yang terpenting sekarang, pergi ke toko kue dan selamat bingung memilih!
***

Di dalam lift, aku melihat pantulan diriku. Heboh. Menggondol buket Freesia dan memegang satu toples choco flake cookies. Ting. Baik, ini lantai 15. Menuju 1502, Knock! He? Orang ini…


“Hai Tei, kau datang. Mari masuk,” ujar lelaki yang wajahnya terasa tidak asing. Terbongkarlah sudah puzzle yang tidak kupedulikan tadi. Lelaki ini, yang menyaksikan tingkah konyolku berbasah-basahan diguyur hujan dua hari lalu. Dialah pemilik sweater biru yang teronggok kotor tak kucuci itu. Ah, seperti sinetron saja, sih?

“Kamu… eh, sweatermu.. hmm, belum… anu…”

“Sudahlah, masuk,” ujarnya sambil tersenyum. Aku tahu dia memandangku kasihan. Wajar, dia terlanjur menjadi saksi kejadian paling memalukan tempo hari. Tuhan! Ingin rasanya aku kembali ke kamarku dan melewatkan pertemuan ini. Aku tidak suka dikasihani! Membuatku merasa seperti anak bebek yang baru kecebur got!

Tapi toh kakiku tetap melangkah ke dalam kamarnya. “Well, thanks…” ujarku sambil memberikan tatapan penuh arti. “Oh ya, saya bawakan ini. Tipe Freesia harusnya memberi kehangatan. Kamar cowok kan biasanya gersang… hehehe,” aku berusaha bercanda. Meskipun kenyataannya, kamar Mardi Wisesa jauuuuh lebih nyeni daripada kamarku!

“Wah, seger banget tuh bunganya! Freesia? Dapat dari mana?” sebuah suara cempreng tiba-tiba memecah lamunanku. Hei, sudah ada dua orang tamu rupanya. Tidak sulit untuk mengingat nama wanita tomboy dan cuek yang duduk di dekat kulkas itu. Kahlua. Bagaimana mungkin melupakan Arabica Coffee plus vodka yang eksotis itu? Tapi wanita ceria bersuara cempreng tadi…. Kalea, Kalea, Kalea. KA-LE-A. Oh tolonglah, first impression harus bagus. Bisa hancur kalau ketahuan aku lemah menghafal nama.

“Oh, kebetulan aku buka florist di daerah Citarum. Kalo butuh bunga bisa ke sana, loh! Pilihannya lumayan lengkap kok! Hehe,” ujarku sedikit promosi. Kemudian datang Julian, Kyna, dan Ori. Ah, tidaaaakk! Rasanya aku kembali ke bangku perkuliahan dengan tugas mengingat nama-nama ini. Itulah, efek dari orang tua jaman sekarang yang senang sekali memberikan nama-nama aneh kepada anaknya. Errrr.

Kami berbincang dan saling menanggapi dengan antusias. Refleks telingaku menangkap satu kata yang terlalu sensitif untukku saat ini. Menikah. Ternyata Ori adalah seorang wedding organizer. Segera aku menggeleng-gelengkan kepala untuk menghapus bayangan Musa yang sedang ijab Kabul dengan pakaian adat. Mungkin suatu hari, aku akan berbincang dengan Ori tentang ini. Dia pasti paham sekali cara untuk menghancurkan pernikahan orang. Eh!
***

Aku sengaja berdiam sebentar ketika satu persatu orang meninggalkan kamar 1502 ini. “Terimakasih untuk tempo hari,” ujarku, yang hanya dibalas senyum oleh Mardi. Ia tampaknya lebih serius membereskan gelas-gelas daripada mendengarkanku.

“Aku harap kamu bisa melupakan kejadian itu. Aku.. Ah, sudahlah. Sepertinya kamu sibuk. Permisi!” kubalikan badanku tanpa menanti jawabannya. Ketika melewati kamar sebelah Mardi, refleks kakiku berhenti. Kamar 1503. Aku bisa melihat Ori sedang menghisap rokok dari sela-sela pintu yang sepertinya lupa ia tutup. “Dia bisa tahu banyak hal tentang pernikahan,” ujarku dalam hati. Biarlah aku menjadi konyol sejenak dengan hanya memusatkan kehidupanku pada Musa. Setidaknya, kelak aku bisa tertawa mengingat masa-masa ini. “Hai, Ori. Boleh masuk?”

Ateira Niskala
1502

7/12/10

Drip-drop Teardrop

Byurrr!
Tak berapa blok dari apartemen, hujan deras mengguyur Bandung. Aku selalu membenci hujan. Ada hal-hal yang tak perlu aku ingat, yang dengan sulit aku kebumikan di palung paling dalam, namun dapat menyeruak begitu saja hanya oleh hujan. Hanya karena tetesan air yang bisa membuatmu basah! Cih, konyol.

Seperti biasa, hari Kamis adalah jadwalku mampir di “Bliss Flowery”, florist kecil-kecilan yang kubuat. Aku memesan fresh flower tipe Freesia berwarna fuschia untuk hari Minggu pada pegawaiku. Berharap bunga ini bisa menambah semarak perjamuan makan malam Moammar Emka, eh, Moammar Prisa, Muardi, eh, ahh, kebiasaanku sulit mengingat nama. Bunga yang berarti persahabatan dan kepercayaan ini diambil dari nama seorang botanist, Friedrich Heinrich Theodor Freese.

Aku mendekati pojokan favoritku dan menyalakan sebatang rokok. Memandangi pekarangan dengan bunga-bunga indah yang mengelilingi bangunan mungil tempatku berdiri. Oh ya, ehem, bangunan warm-minimalis ini adalah karya Musa…


***
Kami bertemu untuk pertama kali ketika Bandung sedang diguyur hujan, usai pameran yang diadakan mahasiswa tingkat akhir jurusan sebelah beberapa tahun lalu. Aku menunggu hujan sedikit mereda di depan aula yang kian melengang.

“Sendiri?” Ia bertanya. Ah, lelaki jaman sekarang masih saja suka basa-basi.

“Ya,” aku malas berbicara dengan stranger. Walaupun penampilan lelaki berrahang keras ini demikian meyakinkan dengan setelah jas body fit abu-abu tua. Lelaki ini, adalah salah satu arsitek muda yang mengkurasi rancangan yang dipamerkan tadi.

“Bawa kendaraan?” Tanyanya lagi. “Bawa,” ujarku ketus. “Sebentar lagi gelap. Saya antar sampai parkiran. Payung ini besar sekali. Cukup untuk kita,” tawarnya. Memaksa. Setahuku satpam di sini selalu beroperasi hingga malam hari. Jadi… “Boleh.”

Perjalanan dari aula hingga parkiran, entah mengapa membuat aku demikian percaya padanya. Sampai kami memutuskan menghangatkan diri di sebuah cafĂ©. Balik memaksa, aku mengajaknya ke “Frost”, coffee shop yang menurutku pilihan kopinya cukup lengkap dan bagus. Tidak seperti tempat lain yang memasang istilah “coffee shop” padahal sajian utamanya sofa empuk dan wi-fi.

***
Di tempat itulah aku saat ini. Frost, tanpa Musa dan Spring Vegetable Omelete juga Hot Dripped Coffee Toraja yang biasa dia pesan. Bukannya sengaja mengopek luka yang belum kering, tapi ada bagian dari dalam diriku yang mengajakku ke sini. Melaksanakan kalimat yang kuikrarkan beberapa hari lalu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana tidak? Ketika hujan dan semua sudut di Bandung ini mengingatkanmu akan masa lalu, sepertinya benteng yang kau buat kian retak, tinggal menunggu kapan ambruk.

Aku sedang menyalakan laptop ketika suara yang tak asing ini menyapa.

“Tei! Sudah lama sekali tidak ke sini! Saya selalu menunggu kamu dan Musa. Kangen sama duet kalian ketika menyanyikan lagu-lagu indie-pop setiap malam Rabu. Eh, sudah pesan? Saya buatkan Ice dripped coffe, ya?” Iben, pelayan ngondek yang biasa digoda Musa, mendekat ke arahku dan nyerocos tanpa aku bisa klarifikasi tentang hubunganku.

“Tidak usah, Ben… Aku udah pesan,” jawabku.

Panjang umur Musa. Ada satu surel dan ini benar-benar dari Musa.
Tei, apa kabarmu? Sebulan sudah kita tidak bertukar kabar. Aku telah melewati masa-masa sulitku dan berharap kau pun. Menelusuri jalanan Bandung, selalu menjadi rutinitas yang membuat dadaku serasa disumbat kelapa. Dengan serabut yang keluar, mencabik dadaku dengan halus namun pahit. Tapi semua itu telah (maksudku, harus) berlalu.

Tadinya aku ingin menyampaikan kabar ini secara langsung, tapi si Mbok bilang kau pindah dan aku tak tahu alamat barumu. Intinya... Aku, sedang mempersiapkan pernikahanku dengan Kalila. Mungkin terdengar terburu-buru, tapi kau tahu aku. Kau tahu apa yang kuinginkan dalam waktu dekat ini. Ayah semakin tua, penyakit pun terus menggerogotinya. Dia ingin menggendong bayi sebelum ajal menjemput.. Datanglah, aku telah memperjuangkan kedatanganmu dan bertengkar dengan Kalila. Aku ingin kau datang.
Bang-sat. MENIKAH??? Ohh, Musa.
Tergesa aku membereskan barang-barangku. Kupacu kendaraan untuk pulang. Pandanganku berbayang. Hujan masih deras, bahkan ketika aku sampai di parkiran apartemen. Aku membuka pintu, merasakan bulir hujan mulai membasahi sepatu, kaki, celana pendek, dan blouse kesayanganku. Juga rambutku.

Begini, ya, rasanya menangis di bawah hujan… Bulir hangat menyusuri pipiku. Satu, dua, tiga, dan tak terhitung lagi. Rasanya aku tak mampu melangkah. Mengapa kaki berukuran 35 ini tiba-tiba terasa berat? Aku menyelosorkan badan, memasrahkan diriku di bawah guyuran air. Tersungkur, tertunduk.

"Biarkan aku dengan kesendirianku. Mereguk racun yang kuseduh sendiri. Biarkan aku mengetuk pintu dan menyadari bahwa tak ada sesiapa untuk berbagi sendu. Ternyata memang bukan di sini," batinku. Segera, aku berniat mengepak barang dan pergi entah ke mana.

Deras hujan seketika berhenti. Hanya di atas kepalaku. Aku melongok dan menemukan sesosok lelaki berpayung besar berdiri di depanku, kemudian berjongkok dan memegang daguku. “Setahuku apartemen ini tidak pernah kehabisan air. Untuk apa kau membasahi dirimu di sini? Naiklah, ku antar kau ke kamarmu.” Pandanganku masih berbayang ketika ia bertanya, “lantai berapa?”

Ateira Niskala
l'appartemant 1501

7/6/10

l'appartemant 1501

Berapa harga yang harus kau bayar untuk sebuah cita-cita?

via (ache)

Menjadi perempuan yang bekerja untuk kebutuhan dirinya, bisa jadi hal yang membanggakan. Apalagi jika pengetahuan dan daya nalarnya berada setidaknya tepat pada garis rata-rata. Tapi apa yang dicari dari semua itu? Hal tersebut mengusikku karena pembicaraan di messenger tadi siang. Habislah aku dibego-begoi seorang sarjana hukum yang baru beres yudisium dengan peringkat sangat memuaskan tapi sama sekali tidak tahu pasal apa saja yang dikenakan untuk menjerat Ariel.


Segelintir orang memang percaya bahwa pasangan yang mapan merupakan modal awal untuk menikah. Kira-kira, berapa perempuan rela meninggalkan pekerjaannya demi lelaki mapan yang sangat dicintai? Ahhh, jangan bilang aku sendirian yang bodoh di dunia ini. Ya, aku meninggalkan lelaki yang kucintai demi pekerjaanku yang masih dalam impian. Cih, ketika melafalkan kalimat tadi, aku baru sadar bahwa sepertinya aku adalah perempuan terbodoh di dunia! Sudah merasa hebat, apa?

Aku masih bermain dengan pikiran-pikiran sendiri ketika kuhempaskan tubuh ke atas kasur dan membenamkan kepalaku di bawah bantal. Memalukan jika terdengar kamar sebelah. Kemungkinannya dua, aku disebut uber-pathetic atau disangka makhluk beda dunia. Syukur-syukur dia sudah tidur. Beda dengan seorang hippies penghuni kamar seberang lift sana yang baru pulang sekitar pukul 04.00 sambil setengah mabuk dan menggenjreng gitar tak bernada.

“Kebahagiaan seperti apa sebenarnya yang kamu cari?” bisikku lirih. Jika dipikir-pikir, mengapa aku bisa menolak lamaran Musa hanya karena ingin tetap bekerja setelah menikah nanti? Padahal arsitek muda yang tergabung dengan Artsicraft Group dan punya banyak klien kakap pasti mampu membiayai kehidupanku lebih dari cukup. But still, the idea of being jobless in a life after wedding sama sekali tidak terlintas di pikiranku.

Di tengah kegulitaan kamar yang baru kutempati sejak dua pekan lalu, aku membuka laci terbawah lemari dan mengeluarkan sebuah foto. Lekat-lekat, aku memandangi sosok yang dalam kegelapan seperti ini menjadi sedikit mirip Ariel Peterpan. Usiaku dan Musa terpaut lima tahun, dan aku kembali menyadari bahwa, ya, aku memang masih muda walaupun Musa sudah dipenghujung kepala dua. Aku belum mau menikah. Maka perpisahaan kami dan pertemuan Musa dengan Barbie sialan itu tepat.

Membayangkan si Barbie generation itu, aku bisa tertawa miris dan lelah tak habis pikir. Bahwa ada orang yang tidak perlu berbuat banyak untuk mendapatkan kebahagiaan. Mereka mendapatkan jalan pintas bebas hambatan menuju apa yang mereka inginkan, ketika orang lain harus menempuh jalanan terjal memutar.
***
Begitu terbangun pukul 11 pagi, aku segera duduk di depan laptop. Menyambungkan koneksi internet sambil menyalakan sebatang rokok. Inilah enaknya hidup sendiri. Batinku sambil tetap menyesap rokok. Dua pekan di sini, aku sama sekali belum melihat pemilik kamar-kamar yang selantai denganku. Inikah individualistis apartemen yang selalu kuharapkan? Halaman utama surelku menunjukkan satu pesan baru dan aku belum mau membukanya. Aku lebih tertarik membuka facebook dan melakukan guilty pleasure baruku.

Stalking ke facebook Musa. Bagus! Sejak kapan Musa membuat status-status lembek. Dan, aww wall-wall cheapy-cheesy. Ditambah profile picture sun-sun pipi gitu. “Oh come on Musa! Gak bisa cari yang lebih baik untuk gantiin saya?” Rasanya aku ingin teriak ke telinganya. Ha-ha-ha. Kembali aku membatin. “Sensi banget. Berasa sendirinya udah bener aja.” Ayolah, better stop this bitter joke!

Toh pada akhirnya harus kita putuskan. Untukku, ini ibaratnya memilih antara menyerahkan diri sepenuhnya pada orang lain atau mengembangkan kepercayaan diri bahwa semuanya bisa dijalani. Time really is flying after all. Kita semakin tua, lebih baik berhenti membuang-buang waktu dengan orang yang belum tentu dapat menghargai kita.

Aku menutup halaman facebook bersamaan dengan menutup satu babak drama hidupku. Selamat merajut istana impian, Barbie and Ken… Ups, Musa!


***

Pukul 1 siang aku sudah mandi dan bersiap mencari makan. Ada yang berjalan dan berdetak cepat di dadaku. Setelah seminggu lebih aku mendekam di kamar dan menguras dompet dengan makanan delivery service, kini aku yang akan bergerak sendiri menuju makan siang. Mari taklukan dunia luar! eh! Aduh, hampir tersandung.

Debaran jantungku kembali mengencang. Musa memberikan paket manis di depan pintu kamar apartemenku! Tidak mungkin! Dia tidak pernah seromantis ini! Aku mencoba menangkis harapan sebesar bola basket yang mulai menyesakkan dada.

….Ha-ha-ha. Ternyata memang tidak benar. Ini bukan Musa.
"Castangel paling enak di dunia ini tentunya tidak gratis, malam minggu nanti bila tak ada acara, makan malamlah di kamarku. sekadar membuktikan bahwa setidaknya ada lima kue kering lagi yang mungkin lebih enak dari castangelku,

salam hangat, Kamar 1502.”
Sebuah kejutan yang mengejutkan. Aku selalu berpikir bahwa hidup di apartemen akan menyenangkan karena semuanya individualistis. Namun setelah dua pekan ini, diam-diam aku merasa kesepian. Aku beranjak mengetuk pintu di seberang kamarku. Tapi urung, lebih baik ikuti aturan mainnya. Sampai jumpa malam minggu! Langkahku menuju makan siang lebih ringan dan aku merasa ion-ion positif dalam tubuhku sedang berreproduksi.***