Showing posts with label Julian Sastradinata. Show all posts
Showing posts with label Julian Sastradinata. Show all posts

2/18/11

The Return

Indikator baterai iPod saya sudah menunjukkan masa kritis. Sebentar lagi mati, dan saya tidak tahu lagi harus mencari hiburan apalagi setelah badai salju membuat semua penerbangan keluar Schipol dibatalkan selama 6 jam. Beginilah tidak enaknya negara yang berada jauh dari katulistiwa. Kini saya paham kenapa Belanda dulu kekeuh tidak mau melepaskan Indonesia sebagai jajahannya.

Sudah satu cup Starbucks caramel latte saya habiskan. Duduk bersama ribuan penumpang yang juga mungkin kekesalannya sama dengan yang saya rasakan. Di kejauhan saya melihat ada pesawat yang akhirnya diperbolehkan lepas landas. Lambaian tangan keluarga yang mengantar membuat saya hanya bisa menelan ludah. Betapa indahnya, pergi sambil melambaikan tangan kepada orang-orang tercinta..


Hi Mom..

Ohhhh

Dia hanya bisa memelukku erat, tanpa sepatah kata pun. Tak berapa lama saya merasa pundak saya basah.. Ibuku menangis, rindu.

Saya memang meminta Pavel untuk tidak memberitahu Mama kalau saya mau datang. Saya bermaksud memberinya kejutan.

Rumah ini tidak banyak berubah. Hanya mungkin bertambah gelap.. Ah mungkin karena saya sudah terlalu terbiasa bermandi sinar matahari tropis di Indonesia, rasanya sinar matahari di Belanda jadi semakin redup.

Kom op in de. Dit is nog steeds uw huis, waarom sta je daar met.

(Ayo masuk, ini masih rumahmu, kenapa berdiri di sana.)

Ibuku belum terlalu tua. Dia masih cantik. Cantik khas Belanda yang menurut saya tidak secantik perempuan Indonesia.

In het kader van wat je hier kwam?

(Dalam rangka apa kamu ke sini?)

Hoe gaat het met je lieverd?

(Kamu apa kabar sayang?)

Ibu terus memegangi tanganku di meja makan. Sudah lama saya tidak menikmati secangkir teh cammomile buatannya. Harum, dan hangat..

Ik heb werk in Amsterdam. Een modeshow. Ik kan net zo goed hier te komen. Mama, ik mis mama..

(Aku ada kerjaan di Amsterdam. Sebuah fashion show. Aku sekalian ingin berkunjung. Mama, aku kangen Mama..)

Saya melihat mulut ibu sudah bergetar. Matanya kian bening. Lagi-lagi dia menangis.

Je weet niet hoeveel ik je missen.

(Kamu tidak tahu seberapa besar aku kangen kamu.)


Oke, sudah cukup drama nostalgia tali kasihnya. Saya hanya ingin melepas rindu, bukan malah merundung duka di sini. Saya berada di Amsterdam untuk sekitar 15 hari. Sebelumnya saya berada di Milan, Italia selama 1 minggu untuk menghadiri berbagai macam fashion show. Agak sakit hati karena sepertinya karena saya sudah terlalu berumur jadi tidak lagi diminta bantuan untuk memeragakan busana di fashion show musim dingin tahun ini.

Saya sibuk mencari oleh-oleh untuk keluarga saya di apartemen. Ya walaupun baru kenal, tapi saya merasa mereka adalah bagian penting dalam hidup saya. Entahlah, rasanya benar isi sebuah artikel yang pernah saya baca di Reuters Health, bahwa pertemanan itu sudah ditentukan sejak lahir, dari gen manusia.. Mungkin saja.


Besok adalah hari terakhir saya di Amsterdam. Lusa saya kembali lagi ke Indonesia. Urusan pekerjaan sudah beres sejak seminggu yang lalu. Saya memang memperpanjang waktu saya di sini agar bisa menghabiskan waktu bersama Mama dan adik-adik. Tapi saya lebih banyak berduaan dengan Pavel, adik saya yang kedua. Dia banyak sekali bercerita tentang kehidupannya. Dia mengenalkan pacarnya ke saya, Elizabeth, kalau tidak salah namanya. Singkat cerita, sore itu Pavel bertanya sesuatu ke saya. Sebuah pertanyaan yang sangat menyesakkan, sekaligus membuat saya lega.

Apa benar kamu menjadi boy toy di Indonesia?

Awalnya saya berpikir bahwa ini adalah rahasia saya yang akan saya simpan sampai liang kubur. Tapi.. terlalu lama menyimpannya malah membuat gerak laju saya menjadi berat. Saya juga butuh seseorang yang bisa saya ajak berbagi..

Kamu malu?

Jadi benar?

Ya...

Pavel terdiam. Dia memeluk tubuhku erat..

Maaf Julian.. Maaf aku gak pernah tahu kalau kamu semenderita ini.. Dari dulu yang aku tahu bahwa kamu adalah anak yang durhaka pada mendiang ayah..

Bukan salah kamu.

Aku melepaskan pelukannya.

Aku tidak butuh dikasihani.

Ahhh bicara apa saya ini, masih saja memegang gengsi pada adik sendiri..

Sekarang masih?

Tidak. Beruntung waktu itu ada pelangganku yang membuat aku menjadi model tenar. Sekarang aku sudah bersih..

Kenapa kamu gak pernah cerita di email?

Saya berdiri, memandangi orang-orang yang tertawa lepas mengayun ke sana ke mari di atas air danau yang membeku. bagaimana mungkin saya bisa bercerita masa suram itu ke Pavel. Anak bodoh..

Kalau aku cerita, memang kamu bisa apa? Ini sudah jadi resiko. Aku pergi dari rumah tanpa keahlian apapun kecuali bermain piano dan bermodalkan tubuh indah.

Kak.. Aku mau ikut ke Indonesia.

Kepalaku langsung menoleh ke arah Pavel yang sudah berdiri di sampingku.

Untuk apa?

Aku ingin tahu seperti apa kehidupanmu.. Setidaknya agar aku bisa merasakan semua kesepian yang selama ini kamu rasakan.

Inilah pertama kalinya saya dan Pavel berbicara sedalam ini. Dari hati ke hati. Tanpa pukulan, tanpa makian yang biasanya selalu menyertai perjumpaan kami.

Aku sayang kamu Julian.

Lagi-lagi Pavel memelukku.

Thanks Vel. I love you too..


Dari mana kamu?

Toilet. Bau sekali! Bandara ini seperti tempat penampungan Yahudi saat Nazi.

Hey, berapa lama penerbangan ke Indonesia?

Hmmm, kurang lebih 16 jam.

Ohhh. Ok. What a long flight.

Ya. Dan kamu tetep maksa untuk ikut sama aku.

Pavel tersenyum, kemudian kembali bercinta dengan buku yang baru saya belikan untuknya. Buku tentang batik. Pavel sangat cinta dengan budaya Indonesia. Dia bahkan mengambil jurusan Bahasa Indoensia di Leiden. Saya rasa, dia merepresentasikan Indonesia sebagai ayah, karena ayah orang Indonesia. Entahlah..


Kak, panas sekali di sini! Aku gak nyangka akan sepanas ini di sini.

I’ve told you before.

Hahhhh I can’t wait to meet you family here. Mereka baik kan?

Sejauh ini baik. Mungkin karena mereka tidak tahu kalau aku ini bekas...

Sssttt, stop talking. Take me around!

Pavel akan menetap bersamaku selama sebulan. Saya sangat senang bisa membawa Pavel ke sini. Saya tidak sabar untuk memperkenalkannya kepada penghuni lantai ini.. Lebih dari itu, saya memiliki teman untuk diajak menonton DVD di atas sofa butut ini.


Hey Julian

Tiba-tiba ada yang menepuk pundak saya. Saya kemudian membalikkan badan setelah mengunci rapat pintu apartemen.

Ehh, hai Elora. Lama gak ketemu ya..

Iya. Kamu ke mana aja sih? Melihat begitu banyaknya tumpukan surat di bawah, sepertinya kamu udah lama gak di apartemen. Kamu jadi ke luar negri?

Hehe iya. Aku baru aja kembali dari Eropa. Seperti yang aku bilang waktu itu, fashion show.

Wahhh enak sekali. Iriii!

Eh iya, kenalkan ini adikku, Pavel.

Halo

Pavel mengulurkan tangannya

Halo. I’m Elora. Nice to meet you

Mimik Elora lucu sekali. Dia menggerakkan bibirnya dengan sepenuh hati, seolah-olah adikku tidak bisa mendengar.

Haha, dia bisa bahasa Indonesia kok, Elora.

Ohhh. Hehe oh dikirain orang Londo tok tok. Eh maaf, aku duluan ya, masih ada kerjaan. Nice to meet you Pavel.

Pavel tersenyum sambil memberikan isyarat thumb up ke arah saya saat Elora sudah pergi mengarah ke unitnya.

Hey she’s much older than you!

Sooo???

Ahhh. Come.

Di kejauhan saya bisa melihat Naila di kejauhan. Dia juga baru akan pergi sepertinya. Karena Pavel terburu-buru, saya hanya bisa melambaikan tangan. Naila membalas. Ahhh saya rindu mereka. Sudah setengah bulan lebih kami tidak berkumpul.


Bagaimana liburannya Pak Julian?

Oh hey. Bukan liburan kok. Saya kerja.

Siapa ini? Meuni kasep..

Ini Pavel, adik saya. Dia akan menetap di sini selama sebulan. Apa saya perlu isi buku tamu?

Oh ya tentu. Selamat datang Pavel. Kalau perlu apa-apa bilang aja ka bapak. Ini Pak Julian, isi di sini.

Pak Sidik menyodorkan buku tamu ke saya. Memang aturan di apartemen ini, bila ada tamu yang menginap, baik itu keluarga, tamu atau pacar harus mengisi buku tamu. Untuk alasan keamanan.

Bade kamana?

Keliling FO aja Pak.

Hep pan ya!

Hahaha. Iya terimakasih Pak.

Pak Sidik adalah orang Sunda asli. Dia sering minta diajarkan bahasa Inggris ke saya. Tapi dasar Pak Sidik, dia selalu malas untuk mengeja huruf F dengan benar.

Eh iya Pak Julian. Urang poho. Kemarin ada laki-laki yang mengirimkan ini untuk Pak Julian. Ini.

Saya berbalik ke meja resepsionis, mengambil sebuah tas belanja Zara dari Pak Sidik.

Siapa Pak?

Tidak tahu saya. Pas ditanya, dia cuma bilang, just pren.

Pak Sidik tiba-tiba mengubah suaranya menjadi lebih ngebass, menirukan suara laki-laki misterius ini.

Haha. Dasar bapak ini.. Ya sudah saya titip dulu saja di sini. Nanti saya ambil saat pulang.

Sip bos! Hati-hati di jalan.

Saya melengos pergi. Siapa ya kira-kira yang mengirimkan tas belanja Zara itu..

You said it’s over.

What?

Saya kaget tiba-tiba Pavel bertanya saat pikiran saya sedang menerawang, menebak siapa yang kira-kira mengirimkannya.

Hey, kamu gak percaya aku? Aku udah bukan boy toy. Mungkin itu dari fans atau manajemen.

Tit tit

Telepon genggam saya berbunyi. SMS masuk.

Sudah terima paketnya? Suka gak? :)

Nomor tidak dikenal.

Siapa ini?

Sent. Delivered. Belum ada balasan. Selamat datang penasaran..

Julian Sastradinata

9/27/10

Smiles

Saya lupa kalau hari ini hari Minggu. Saya kembali teringat masa lalu di Belanda. Kami sekeluarga selalu rajin pergi ke Christ Church di Groenburgwal 42. Ayah sengaja mengajak kami ke sana, agar kami bisa langsung jalan-jalan sepulang gereja. Letaknya di tengah kota Amsterdam sehingga kami bisa leluasa menikmati keramaian market di Dam Square. Mirip seperti pasar malam di Indonesia, bedanya ini ada di siang hari. Dan tidak seperti di Indonesia yang mainannya tong setan, rumah hantu yang bau kemenyan atau bianglala ala kadarnya, ini benar-benar spektakuler karena ada rajawali-ala Dufan, kicir2 ala Dufan dan permainan lainnya. It was fun!

Hah lagi-lagi sofa lapuk ini membawa kenangan masa lalu.. Dasar ayah, saya rasa sofa ini sudah dijampi-jampi olehnya.

Sangat jarang saya hanya berdiam diri di Minggu siang ini. Biasanya saya selalu sibuk orderan foto dari berbagai clothing line terkenal. Biasanya saya menjadi pusat perhatian para cong pendukung sesi pemotretan, make-up artist, fashion stylist, pengarah gaya. Mungkin dengan semakin tuanya saya, tawaran yang datang pun semakin sedikit.

Saya mainkan tangan saya di tuts piano hitam klasik di sudut ruangan. Sudah lumayan berdebu karena belakangan saya jarang memainkannya. Aneh sekali.. Tangan ini sangat kaku. Seketika saya kembali teringat ayah, sang maestro piano yang selalu mengharuskan saya berlatih piano seminggu tiga kali.

***

Selesai mandi, saya segera menyiapkan kopi hitam yang baru saya dapat dari Ebay. Kopi Luwak. Agak mahal memang. Aneh rasanya, saya tinggal di Indonesia, namun susah untuk mendapatkan kopi Luwak yang asli. Tetap saja saya harus membelinya dari penjual resmi di New York. Cocok sih, kota itu memang tidak pernah tidur. Mungkin pengaruh kopi Luwak. Haha, random.

Nikmatnya kopi ini. Saya duduk di hadapan jendela. Menikmati sore hari di kota Bandung dari ketinggian seperti ini memang sangat syahdu. Apalagi ditemani castengels...

ASTAGA! Saya lupa hari ini saya mendapat undangan makan malam dari kamar 1502. Merdi.. Hmmm, bukan.. Mark.. Saya memang cepat lupa nama orang. Wajah pasti saya ingat, hanya saja saya terlalu cepat lupa nama orang.

***

Sekarang pukul 6 sore dan saya sudah lapar. Sudah waktunya saya untuk makan malam dan saya berharap waktu makan di kamar 1502 itu sama dengan waktu makan malam saya.

Eh tapi aneh rasanya jika saya datang tidak membawa apapun. Saya melihat sekeliling ruangan. Apa yang bisa saya bawa.. Saya baru ingat. Kemarin ada yang mengirimkan saya parfum CK One. Tidak terlalu suka baunya. Mungkin bisa jadi sebuah kado tanda perkenalan.

Gradak gruduk


Saya langsung sibuk mencari di mana parfum itu berada. Gara-gara mencari parfum ini, saya kehilangan 30 menit! Hah I hate being late! Hasil didikan ibu saya mungkin. Didikan kum.. kumpeni kalau tidak salah orang Indonesia menyebut bangsa Belanda jaman dulu.

Senyum

***


Ting tong
Ting tong

Grek

Pintu terbuka. Tampaklah sesosok pria...tidak tampan tapi juga tidak buruk rupa. Badannya tidak terlalu bagus tapi kenapa baju itu terlihat bagus dipakainya. Hmmm dia charming...

Hai, kamu pasti dari kamar pojok sana. Kamar 1500?
Perkenalkan saya Mardi. Mardi Wisesa

Dia menjulurkan tangan mengajak bersalaman. Saya jabat tangannya. Hangat..

Hai. Iya saya. Saya Sastradinata. Julian Sastradinata. Nice to finally meet you..Mardi

Senyum

Ah akhirnya itu dia namanya. Mardi Wisesa. Semoga cara bicara saya tadi tidak terbata-bata.

Ini saya ada sesuatu. Anggap saja tanda perkenalan.

Ah ngerepotin aja.

Nggak kok. Ini tidak seberapa. Gue malah berterimakasih sekali karena akhirnya gue tahu bahwa ada manusia lain di lorong ini selain gue.

Hahaha kamu lucu. Ayo masuk. Sudah ada yang lainnya di dalam.

Eh tunggu dulu Mardi!

Saya menepuk pundaknya.

Jangan sampai yang lain tahu ya. Itu cuma buat lo

Ohhh, ok!
***

Demi Tuhan saya lupa nama orang-orang ini. Yang saya ingat hanyalah Kahlua. Sang wartawan. Namanya mirip nama minuman.

Yang lain? Saya ingat ada perempuan kecil yang bekerja sebagai WO. Namanya Tira. Atau.. entahlah ya.

Kemudian ada yang bekerja sebagai penari. Ada yang ...

Maafkan keburukan memori otak saya ini. Sepertinya pengaruh weeds beberapa tahun lalu di Belanda baru terasa efeknya belakangan ini. Ingatan saya mengalami hambatan. Nama orang, sesuatu yang crusial, bahkan saya tidak bisa ingat hanya dalam satu kali pertemuan.

Saya hanya ingat, ada diantara perempuan-perempuan rumpi itu yang membawa kue dari Belgia.

Berada diantara mereka.. Saya merasa hangat. Apakah karena mereka mayoritas perempuan? Saya heran, tidak ada diantara mereka yang sepertinya melihat saya sinis, karena biasanya jika orang yang baru pertama kenal saya, mereka akan merasa seperti ditelanjangi oleh pandangan mata saya from head to toe. So typical.

Temporal deadzone where clocks are barely breathing
yet no one cares to notice for all the yelling, all night clamor to hold it together

I want to play don't wait forms in the hideaway
I want to get on with getting on with things

I want to run in fields, paint the kitchen, and love someone
And I can't do any of that here, can I?

Ini First Train Home-nya Imogen Heap kan?
I love this song. Reminds me of my hometown.

Saya melempar bahan dengan Mardi yang duduk di tempat tangan sofa tempat saya duduk.

Oh iya. Saya juga suka. Eh emang kampung halaman kamu di mana Julian?

Aduh jangan panggil Julian. Terlalu aneh didenger. Panggil gue J aja ya.

Iya sih emang agak panjang.
Ok. J, emang kampung halaman kamu di mana?
Kedengaran dari aksen dan postur tubuh kamu, sepertinya kamu campuran ya?

Ya ampun, Mardi memperhatikan postur tubuh saya sampai dia menanyakan tentang itu sekarang. Gotcha!

Gue dulu lahir dan besar di Amsterdam, Belanda.
Lima tahun yang lalu gue pindah ke Indonesia.
...
Pembicaraan kami berdua mengalir. Saya menceritakan sedikit kisah hidup saya.
Saya bilang jika alasan kepindahan saya ke Indonesia karena saya ingin tahu bangsa asli ayah. Bohong besar!
Saya bilang kalau saya hanya bekerja sebagai model. Bohong besar!
Saya juga bilang kalau saya tidak pernah menyelipkan secarik kertas di bawah pintu 1502. Bohong besar!

Pembicaraan saya dengan orang yang baru kenal, umumnya selalu diawali dengan sebuah kebohongan. Tapi mohon jangan sebut itu sebagai sebuah kebohongan, walaupun memang itu faktanya. Kebohongan itu kasar sekali didengarnya. Terkesan jahat. Sebutlah dengan.. aduh saya lupa istilah itu.. JAIM! Jaga image kalau meminjam istilah dari make-up artist yang pernah merias saya untuk fashion show Gucci bulan lalu.

***

Seru juga bisa bertemu dengan penghuni lorong ini. Lantai 15.

Senang bisa mendengar pengalaman kerja seorang Elora..akhirnya saya ingat nama perempuan mungil ini.. Lumayan godaan jika calon mempelai prianya sangat menggugah birahi.

Senang bisa mendengar tawa lebar seorang Kyna..tiba-tiba otak ini bekerja dan mulai mengingat nama orang satu persatu.. Sepertinya menarik menjadi seorang penari. Di negri Belanda, seorang penari sangat dihargai. Ayah dulu suka mengajak saya ke pertunjukan ballet yang sangat membosankan namun kini saya merindukannya kembali setelah mendengar sedikit cerita dari Kyna.

Senyum

Dan walaupun saya membenci wartawan yang suka menguntit kegiatan saya, ternyata menyenangkan mendengarkan pembicaraan berbobot dari Kahlua. Seputar kisah politik sampai rahasia perselingkuhan pejabat. Seru!

Ateira yang ternyata suka juga fashion. Terlihat dari penampilan petite-nya yang sangat enak dilihat. Pengusaha florist yang cantik dan terlihat sangat pintar.

Saya juga pernah membaca tulisan Kahlea, perempuan bersuara cempreng dengan penampilan sangat simple namun menarik. Dia pernah menjadi kontributor di majalah Esquire. Kalau tidak salah kala itu membahas mengenai homoseksual. Mungkin dia aktivis juga. Saya tidak banyak berbincang dengannya.

Setidaknya malam ini saya tidak perlu mengenang masa lalu ketika duduk di sofa butut ini. Lorong ini memiliki denyut kehidupan yang hembusannya terasa hingga tempat saya saat ini berada. Duduk di atas sofa butut peninggalan ayah, menikmati segelas Cardonnay sambil menikmati alunan album Imogen Heap.

Selamat malam Bandung. Selamat malam Mardi Wisesa. I'll keep my eyes on you!

Senyum



Julian Sastradinata



7/13/10

Thanksgiving

via ache


Tittt..

One message received

“Pak Julian, saya Yara dari Damion Agency. Saya ingin mengabarkan, semua dokumen Anda sudah di-approved. Semua telah kami siapkan sehingga bulan depan Anda siap berangkat. Mohon untuk konfirmasi secepatnya. Terimakasih.”

Saya duduk lemas di sofa panjang ini. Sofa tidak empuk dan ketinggalan jaman. Sofa warisan dari ayah yang telah saya reparasi sehingga paling tidak agak cocok dengan perabotan lain di ruangan ini. Badan ini tidak capek, hanya batin saja yang sepertinya tengah memberontak minta perhatian. Saya terengah-engah dibuatnya. Entah, beberapa hari ini, saya selalu dihantui perasaan bersalah. Bersalah karena telah mengkhianati dia.

Saya adalah anak tertua dari 4 bersaudara. Keluarga saya semua tinggal di Amsterdam, Belanda. Ayah saya orang Sunda asli, sedangkan ibu adalah perempuan keturunan campuran Belanda Cina. Mata sipit, hidung mancung dan badan tegap ini pastilah turunan dari darah ibu. Keras kepala, suka hura-hura dan menghabiskan uang adalah turunan dari sifat ayah. Bukan sifat orang Sunda, sekali lagi saya tekankan, ini sifat ayah saya. Dulu dia gemar main judi dan ‘jajan’ di Red Light District. Tapi satu hal yang saya pegang teguh dari dirinya, dia adalah seorang pekerja keras dan mencintai keluarganya. Seburuk apapun dia di luar, dia selalu menyisihkan waktu untuk sekedar mengajak saya dan saudara-saudara saya mengunjungi Dam Square, atau sekedar naik tram sightseeing menyusuri kota di saat weekend. Amsterdam memiliki 18 jalur tram yang tersebar ke segala penjuru kota. Saat kecil, saya selalu merengek hanya untuk terdiam di depan kincir angin. Memandanginya berputar dengan lembut seakan memberikan sebuah kesegaran yang tiada tara. Ya, Belanda memang identik dengan kincir anginnya, namun Amsterdam sebenarnya bukanlah tempat yang tepat untuk melihat kincir angin. Kota Eindhoven adalah tempat yang lebih tepat. Jika ayah punya waktu, kita biasanya suka ke Molen Van Sloten windmill, sedikit jauh memang. Lokasinya bisa dicapai dengan naik tram no.2 hingga stasiun terakhir, lalu dilanjutkan jalan kaki sekitar 15 menit. Kincir angin ini lebih berfungsi sebagai aksesoris karena tidak ada angin yang cukup kencang di tengah kota Amsterdam. Entah kenapa saya tega berbuat demikian buruk padanya. Ayah sudah meninggal karena radang otak 5 tahun yang lalu. Ibu saya sedang menikmati kebahagiaan masa tuanya di sana, ditemani ketiga saudara saya yang lain. Hmm kebiasaan saya untuk sarapan bir dimulai setelah ayah wafat. Minuman terakhir yang dia tenggak adalah sekaleng bir Bintang yang saya bawakan dari Indonesia. Mungkin dia rindu akan kampung halamannya.

***

Drettt drettt

Seketika saya terjaga dari lamunan. Suara getar handphone mengagetkan. Sialan.

Wanneer kom je thuis? Moeder je mist.

(Kapan kamu pulang? Mama kangen kamu.)

Pesan singkat dari Pavel Orloff Sastradinata, adik saya yang paling bungsu. Saya menghela nafas. Sudah 5 tahun sejak ayah meninggal, saya belum pernah lagi menginjakkan kaki di Belanda. Ternyata ada juga kata ‘kangen’ di kamus saya. Terbayang betapa marahnya saya saat menutup pintu rumah dengan kasar, bermaksud dengan segala keteguhan hati untuk meninggalkan semua memori di Belanda dan hijrah ke Indonesia hanya bermodalkan nyali. Dasar labil..

Gewoon wachten, zal ik zeker komen. Ik ga naar Parijs volgende maand voor de modeshow. Ik zal voor een tijd van komen naar Amsterdam.

(Tunggu saja, saya pasti akan datang. Saya pergi ke Paris bulan depan untuk peragaan busana. Saya akan sempatkan untuk datang ke Amsterdam.)

Tuttt..

Delivered

Saya letakkan handphone di meja kaca. Tangan saya menyenggol toples castangel yang tadi siang saya dapati di depan pintu kamar. Ahhh dari Si Mardi Wisesa. Sosok aneh sok kenal dari kamar 1502. Hmm, jam 5 sore, saat yang tepat untuk menikmati kue kering dengan secangkir teh manis hangat. Apalagi cuaca Bandung sedang sangat mendukung untuk leha-leha. Jarang sekali saya bisa pulang sore seperti ini. Pemotretan tadi siang berlangsung cepat. Mungkin karena mood saya yang tergenjot karena mendapat notifikasi sms banking. Tabungan saya bertambah satu digit. Senyum..

Saya berjalan ke dapur. Menyiapkan teh manis hangat, lalu kembali ke ruang tv sembari mampir ke jendela untuk menyibakkan korden agar saya bisa melihat sunset dengan lebih jelas.

Kress..

Renyah sekali castangel ini. Oleh-oleh kiriman dari adik saya saat Natal dulu kalah jauh dari ini. Kejunya gurih, crunchy dan tidak membuat eneg. After taste-nya juga tidak membuat mulut terasa asam.

Aku ambil secarik kertas dan sebuah pulpen di samping tv.

Terimakasih atas castengelnya. Sangat enak. Beli dimana? Anyway, apakah ada dresscode untuk makan malam hari Jumat? Jika ada waktu, silahkan mampir ke kamar saya.

Best regards, kamar 1500

Saya sisipkan kertas ini di bawah pintu kamar 1502. Setidaknya sebagai rasa terimakasih saya karena telah diberikan kue kering yang sangat lezat. Mungkin tidak ada salahnya jika saya datang hari Jumat nanti. Yaaa hitung-hitung untuk melepas penat saat weekend dan menghilangkan bayangan buruk masa lalu. See you Mardi Wisesa!

Julian Sastradinata

7/6/10

l'appartemant 1500

Lagi-lagi mimpi buruk. Keringat bercucuran dan jantung berdetak dengan sangat cepat. Saya miringkan badan untuk meraih jam digital di samping tempat tidur. Pukul 3 dini hari dan saya baru tertidur 2 jam. Bayangan masa lalu itu kembali menghantui ketenangan jiwa saya.

“Kamu gak apa-apa sayang?”

Saya kaget mendengar suara itu. Suara yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Sangat asing.. Ohhh, saya ingat sekarang. Dia adalah Daniel Siregar, perancang adi busana yang sedang naik daun di negri ini. Tadi malam saya menjadi model catwalk baju rancangannya di sebuah peragaan busana paling akbar di kota ini. Saya memang berprofesi sebagai model. Model murahan yang bisa ‘dinikmati’ 24 jam dengan bayaran selembar cek senilai 30 juta. Dan itu minimal. Saya pernah mendapatkan 3 kali lipat dari itu. Entah si Daniel jelek ini akan membayar saya berapa. Pria ngondek berperawakan sangat Batak. Aneh rasanya dengan muka garang seperti itu bisa sangat ‘melambai’. Senyum tipis.

“Kok kamu tersenyum? Tadi malem enak banget. Kamu memuaskan.”
..diam.. “Aku pengen kamu pergi dari sini sekarang.”
“Kenapa?”
“Aku bilang, PERGI! Jangan lupa tinggalkan ceknya di meja ruang TV.”

Perancang ngondek itu sepertinya ketakutan dan langsung terbirit-birit mengenakan bajunya lalu kabur. Entah dia tinggalkan ceknya atau tidak. Jika tidak, siap-siap saja besok dia sudah tinggal nama.

via (ache)

Saya tinggal di apartemen ini seorang diri. Dari hasil keringat saya. Literally. Keringat yang saya keluarkan di tempat tidur ini. Saya sudah selayaknya gigolo. Terserah saya mau dipanggil apa. Profesi model tidak akan mampu memenuhi gaya hidup konsumerisme saya. LV, Hermes, Gucci dan semua merek ternama dunia menghiasi kloset saya. Saya gila belanja dan senang kemewahan. Saya harus hidup dalam gemerincing koin emas dan bermandikan berlian. Saya tidak bodoh, saya sarjana kedokteran sebuah universitas berplat merah terbaik di kota ini.

Nama saya? Mereka biasa memanggil saya, boy toy.


***

Saya terbangun ketika sinar matahari mulai masuk ke dalam ruang tv. Saya tertidur di sofa setelah mencoba tidur kembali sambil 'ditonton' tv. Salah satu contoh pemborosan energi yang tidak patut ditiru. Berjalan setengah sadar, saya langsung membuka kulkas untuk menghabiskan sekaleng bir bintang. Saya bakar sebatang rokok kemudian duduk kembali di sofa untuk melihat berita terbaru hari ini. Saya terbiasa sejak kecil untuk selalu sarapan berita di pagi hari. Mengenai sarapan bir, itu kebiasaan buruk yang membuat perut saya tidak sixpacks seperti dulu. Buncit!

Satu jam lagi saya ada jadwal pemotretan di sebuah studi foto kawasan Antapani. Semoga tidak macet. Tidak sempat jika saya mandi karena sekarang sudah jam 12, dan pasti mobil membludak di jalan seperti semut yang siap-siap menyerbu gula untuk dimakan. Untung saja saya tidak memiliki masalah bau badan, sehingga tidak mandi pun tidak masalah bagi saya. Mengenai bau badan, beberapa pelanggan saya dulu pernah bilang saya memiliki pheromon yang kuat. Zat apalah itu yang membangkitkan gairah seksual. Yahhh mungkin hanya rayuan gombal. Senyum.

Saya buka kloset. Baju apa yang harus saya pakai? Suasana di luar sangat panas. Lebih baik saya kenakan kaus v-neck tipis keluaran Armani, celana jeans ketat Cheap Monday dan flipflop Zara. Apalah flipflop itu, saya juga kurang tahu sebenarnya jenis apa, pokoknya sepatu yang tinggal masuk. Saya simpel, tidak suka yang ribet, apalagi iket-iket tali sepatu. Tapi merek, real merek, bukan 'merek' ya, sangat saya junjung tinggi. Harga tidak pernah bohong kok. Ok, now I'm ready untuk mengadu nasib. Mengadu apa, ngadu ke siapa juga.


***

"Setan!!!"

Saya tersandung sesuatu. Orang bodoh mana yang menaruh ini di depan pintu orang. Hah ada undangan makan malam. Mungkin dari fans. Fans yang tidak tahu rasa sopan santun, kenapa tidak mengetuk pintu saya saja. Saya kan tidak sesombong itu. Memberi undangan makan malam tapi hanya membubuhkan nomer kamar. Saya seperti pelacur saja.. Padahal memang iya.

Siapa sih kamar 1502 ini. Sok misterius! Tidak ada yang lebih misterius di apartemen ini dibandingkan saya harusnya. Saya hanya menempati apartemen ini setiap minggu terakhir tiap bulan. Ohhh pasti dia ingin berkenalan sama saya. Yahhh terus saja pikiran ngalor ngidul. Ah untuk apa juga dipikirkan..

Ting. Bunyi lift. Ting.

Saya sampai lantai dasar apartemen. Dipersimpangan menuju pintu keluar akhirnya saya putar arah ke meja satpam.

"Teh, kamar 1502 itu kamar siapa ya?"

"Kenapa memang, Pak?"

"Ya ampun, saya setua itu ya? Panggil nama saja cukup kok. Panggil saya Julian."

"Oh iya maaf.. Pak, eh maksud saya Julian.. Memang kamar 1502 mengganggu?"

"Gak sih. Saya ingin tau aja.."

"Mardi Wisesa.."

"Eh?"

"Iya, namanya M-A-R-D-I W-I-S-E-S-A"

"Ahhh I see. Nuhun ya Teh."

Mardi Wisesa. Hmm namanya tidak asing. Siapa ya? Apa pelanggan saya dulu? Ah bukan. Namanya kurang 'ningrat' untuk mengeluarkan cek 30 juta. Seperti apa ya dia? Kenapa saya jadi penasaran gini sih. Norak. Sudahlahhh liat saja minggu depan apa dia bisa membayar saya 30 juta setelah makan malam.

Berlalu sambil membuka laman Google di smartphone. Typing, Mardi Wisesa. Search!

Another 30 million. See ya Mardi Wisesa :)


Julian Sastradinata