Showing posts with label Naila Kahlua. Show all posts
Showing posts with label Naila Kahlua. Show all posts

7/12/10

KIDUNG

Debit air dari pancuran membangunkan ragaku dengan sempurna. Mungkin banyak orang yang benci terkena dinginnya air Bandung, apalagi di hawa selepas fajar. Sama sekali tidak aneh, karena cairan laksana calon es itu selalu membuat kulitmu takut, keriput, dan membuat bibir mengekerut. Tetapi, saya terlalu mencintai kesegaran pagi sampai-sampai mandi pun harus air dingin biar terasa kick start -nya.

Selesai juga badan saya yang bau apek bersolek. Minggu pagi ini akan terasa hambar apabila saya tak menyapa sang surya. Ia tak lagi berjaga di ufuk timur, sekarang posisinya sudah berada sekiar 45 derajat dari jendela apartemen 1506. Sambil membuka gorden lebar-lebar, tangan yang bersentuhan dengan rak buku ternyata ikut menjatuhkan sesuatu.

VOL. 4
Untuk Kahlua, dengarkan dengan hati
-bagdja.

"Apakabar, dja? Aku menepati janji kan? Yah.. walaupun agak tersesat di tumpukan buku, saya masih simpan semuanya. Terima kasih sudah memilihkan anthem hari ini," molonog dengan diri sendiri telah dilaksanan.

Bagdja Arisetyo, manusia dengan senyuman paling lebar yang pernah diciptakan. Pernah satu kali saya membawa mistar dan mengukur seberapa lebar bibirnya kala tersenyum. 6 centimeter jawabannya, jika kalian bertanya. Karena reflek senyumnya terlalu sensitif, saya hampir tidak pernah tahu kapan ia merengut dan bersedih. Bagdja, sama seperti senyumnya tidak pernah hilang dalam pikiran. Kalau otak bagaikan satu kavling dengan banyak ruangan (dan pintu), maka Bagdja (dan senyumnya) sukses saya masukkan ke satu ruangan khusus yang pintunya saya kunci dari luar. Tiada seorangpun masuk tanpa persetujuan empunya, yaitu saya. Memasukkan pria itu di sana bukan tanpa alasan, 5 tahun yang lalu ia pergi tanpa pernah kembali.

Lamunan saya terhenti di sini. Seakan tidak ingin membuang waktu, saya buka mixtape pemberian Bagdja dan memasukkannya ke mesin pemutar. Perlahan track no. 1 mulai mengalun merasuki udara seisi kamar. Oh ya, satu hal lagi, Bagdja sama dengan mesin waktu. Ia seperti hidup di masa lalu dimana Christine Hakim dan Slamet Rahardjo mencoba bertahan dari hantaman badai. Vol. 4 berisikan lagu-lagu lawas Indonesia tahun 70-an. Nama-nama seperti Purnama Sultan, Denok Wahyudi, Benny Soebardja, juga trio Bram-Dianne-Chris Manusama yang dikenal lewat lagu Kidung (dipopulerkan oleh alm. Chrisye).

"Terucap tanya dan doa
Adakah kenyataan..
Engkau lautan
ombak dan badai bawalah daku
Dalam nikmatmu"

Hentakan dan ketukan "Khayal" tidak membuat perasaan ku ikut berdendang riang. Ironis, justru di tengah hangatnya pagi juga gemuruh musik suka cita, badan ini terasa beku bak tenggelam di bak yang diisi penuh batu es. Kenangan tak pelak bagai bayangan, ia mengikuti kemanapun kakimu melangkah. Betapapun dirimu ingin bersembunyi darinya, selama ada terang bayangan akan terus berpijak di bawah telapak alam sadar. Bisa saja kau bosan bermain dengannya, namun apakah kau siap meraba dalam gelap?

bip bip

Car Free Day, Gedung Sate.
Sender: Kang Iwa
+6281109005

"Yaelah, Car Free Day cuma 2 jam aja pake diliput. Paling habis itu gasibu penuh lagi sama plat B. Liputan appeu nomor hiji," gumam ku sambil sedikit mengeluh.Tak lama kusiapkan seluruh perlengkapan pertempuran dan mencampuraduknya di dalam ransel. Akupun berjalan mendekati daun pintu.

"Jumpa lagi dengan Maissy di Jurnalisme eksplotasi!" Kraaakkk. O,o..sepertinya kaki yang dibalut converse hijau toska menginjak sesuatu , pandangan refleks menuju sumber (sepertinya) retakan.


“Castangel paling enak di dunia ini tentunya tidak gratis, malam minggu nanti bila tak ada acara, makan malamlah di kamarku. sekadar membuktikan bahwa setidaknya ada lima kue kering lagi yang mungkin lebih enak dari castangelku,

salam hangat, Kamar 1502.”




FPI, kopi, ingatan akan Bagdja, dan kali ini Castangel dari seseorang yang bahkan tidak saya kenal di balik pintu 1502. Kepala ini menoleh ke kiri dan kanan, menunggu siapa tahu ada sesosok badan yang bisa dijadikan tersangka karena menaruh kue kesukaan saya di depan pintu. Tubuh yang memikul ransel yang tidak terlalu berat pun bertekuk, mengambil kotak castangel seraya menjauhkannya dari alas kaki. Pasti ada sesuatu di balik ini semua, tapi untuk apa menolak lantas berpikir sinis, jika kita mungkin akan menemukan kotak pandora lain di dalam kamar 1502? Oke, Malam minggu dan saya pun tak sabar ingin bertamu.

7/6/10

L'appartemant 1506


#001


"Jadi, menurut anda para pelaku video porno yang meresahkan masyarakat ini harus dihukum seperti apa?" "Kami minta agar pemerintah memberikan hukuman seberat-beratnya. Karena sebesar-besarnya dosa yang dilakukan oleh manusia, zina adalah tindakan yang paling dilaknat Allah. Hukuman penjara tidak akan cukup membuat mereka yang melakukannya jera! MATI! hanya kematian Mereka yang sanggup membersihkan dosa mereka atas peradaban bangsa! Allahu Akbar!"

***

Tidak sampai satu detik setelah teriakan terakhir lelaki itu, saya pun bangun dari alam mimpi. "DOHH!," umpat saya seraya berganti posisi telungkup, mengambil bantal, dan menutup kepala. Alarm amarah yang mengingatkan pagi ini rupanya berasal dari kotak berwarna (juga bersuara) yang juga membawa bencana. Mengapa saya sebut ia petaka? Karena kotak itu selalu menyiarkan kabar dusta, gunjing, dan amuk massa. Sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi karena bisa bikin kramotak dan pastinya membakar emosi seharian penuh. Dan apa yang mereka obrolkan di minggu pagi yang syahdu ini? Apa topiknya begitu membara sehingga harus ada teriakan di sana? "Anjeeeeeeenggggg," kali ini tone saya menyaingi sumber suara. Selamat hari minggu, semoga panasnya hati bisa didinginkan dengan segelas kopi.


"Kopi, remote, kopi, nah remot," akhirnya ditemukan juga benda kecil yang bisa mematikan suara lelaki yang membangunkan saya tanpa adab. Satu masalah selesai, kini saatnya melaksanakan ibadah pagi, menyeduh secangkir kopi. Tanpa membuang waktu, ritual itu pun ku mulai, tahap pertama memanaskan air. Tidak ada kompor di kamar ini, yang bisa diminta bantuan hanya water heater putih yang baru saja ku beli. Sambil menunggu airnya masak, dalam-dalam kupandangi ruangan berantakan penuh dengan tumpukan koran dan kardus.


Belum genap satu bulan saya menjamah ruangan ini. Kamar apartemen ini adalah peraduan baru bagi saya, tempat melepaskan peluh dan adiknya, si keluh. Keputusan saya untuk pindah ke sini mungkin sebuah takdir, sudah seharusnya kami bertatap muka dan menciumi bau satu sama lain. Ukurannya tidak terlalu besar, hanya faktor ekonomis lah yang membuatku pindah ke apartemen saguli. Letaknya dekat dengan kantor akan membuat gaji ku tak keluar kantong. Hanya itu alasan awalnya, namun entah mengapa kamar apartemen ini terkesan, berbeda. Ah ya, omong-omong apartemen, saya mulai bertanya-tanya seperti apa rupa para tetangga? Apakah mereka kumpulan orang-orang kota yang dijebak waktu? Atau hanya pentapa yang senang menggariskan nasib sendiri? Inilah dia tulahnya wartawan, kerjaannya cuma satu memikirkan kehidupan orang. Lucu ya? Tapi benar adanya orang lain (terutama kehidupan mereka) selalu membawa tanda tanya besar, simbol hakiki mendasar yakni rasa ingin tahu.

Priiiittttt.

Sekali lagi saya dibangunkan oleh suara, dan tambahan kepulan asap. Kali ini, tandanya perayaan kopi pagi siap laksanakan. 2 sendok serbuk hitam dan 2 sendok serbuk putih, takaran imbang tak pernah membuat rasa mengambang. Yin dan Yang- aduk, campur, dan putar. Sekali lagi, ini bukan sekadar meramu lantas mengecap rasa, tetapi juga merenungkan apa yang telah dibuat (dan diperbuat). Kehangatan cangkir takkan seabadi mentari, dan ada baiknya saya gegas menyambut hari.

Naila Kahlua
1506