7/12/10

Drip-drop Teardrop

Byurrr!
Tak berapa blok dari apartemen, hujan deras mengguyur Bandung. Aku selalu membenci hujan. Ada hal-hal yang tak perlu aku ingat, yang dengan sulit aku kebumikan di palung paling dalam, namun dapat menyeruak begitu saja hanya oleh hujan. Hanya karena tetesan air yang bisa membuatmu basah! Cih, konyol.

Seperti biasa, hari Kamis adalah jadwalku mampir di “Bliss Flowery”, florist kecil-kecilan yang kubuat. Aku memesan fresh flower tipe Freesia berwarna fuschia untuk hari Minggu pada pegawaiku. Berharap bunga ini bisa menambah semarak perjamuan makan malam Moammar Emka, eh, Moammar Prisa, Muardi, eh, ahh, kebiasaanku sulit mengingat nama. Bunga yang berarti persahabatan dan kepercayaan ini diambil dari nama seorang botanist, Friedrich Heinrich Theodor Freese.

Aku mendekati pojokan favoritku dan menyalakan sebatang rokok. Memandangi pekarangan dengan bunga-bunga indah yang mengelilingi bangunan mungil tempatku berdiri. Oh ya, ehem, bangunan warm-minimalis ini adalah karya Musa…


***
Kami bertemu untuk pertama kali ketika Bandung sedang diguyur hujan, usai pameran yang diadakan mahasiswa tingkat akhir jurusan sebelah beberapa tahun lalu. Aku menunggu hujan sedikit mereda di depan aula yang kian melengang.

“Sendiri?” Ia bertanya. Ah, lelaki jaman sekarang masih saja suka basa-basi.

“Ya,” aku malas berbicara dengan stranger. Walaupun penampilan lelaki berrahang keras ini demikian meyakinkan dengan setelah jas body fit abu-abu tua. Lelaki ini, adalah salah satu arsitek muda yang mengkurasi rancangan yang dipamerkan tadi.

“Bawa kendaraan?” Tanyanya lagi. “Bawa,” ujarku ketus. “Sebentar lagi gelap. Saya antar sampai parkiran. Payung ini besar sekali. Cukup untuk kita,” tawarnya. Memaksa. Setahuku satpam di sini selalu beroperasi hingga malam hari. Jadi… “Boleh.”

Perjalanan dari aula hingga parkiran, entah mengapa membuat aku demikian percaya padanya. Sampai kami memutuskan menghangatkan diri di sebuah café. Balik memaksa, aku mengajaknya ke “Frost”, coffee shop yang menurutku pilihan kopinya cukup lengkap dan bagus. Tidak seperti tempat lain yang memasang istilah “coffee shop” padahal sajian utamanya sofa empuk dan wi-fi.

***
Di tempat itulah aku saat ini. Frost, tanpa Musa dan Spring Vegetable Omelete juga Hot Dripped Coffee Toraja yang biasa dia pesan. Bukannya sengaja mengopek luka yang belum kering, tapi ada bagian dari dalam diriku yang mengajakku ke sini. Melaksanakan kalimat yang kuikrarkan beberapa hari lalu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana tidak? Ketika hujan dan semua sudut di Bandung ini mengingatkanmu akan masa lalu, sepertinya benteng yang kau buat kian retak, tinggal menunggu kapan ambruk.

Aku sedang menyalakan laptop ketika suara yang tak asing ini menyapa.

“Tei! Sudah lama sekali tidak ke sini! Saya selalu menunggu kamu dan Musa. Kangen sama duet kalian ketika menyanyikan lagu-lagu indie-pop setiap malam Rabu. Eh, sudah pesan? Saya buatkan Ice dripped coffe, ya?” Iben, pelayan ngondek yang biasa digoda Musa, mendekat ke arahku dan nyerocos tanpa aku bisa klarifikasi tentang hubunganku.

“Tidak usah, Ben… Aku udah pesan,” jawabku.

Panjang umur Musa. Ada satu surel dan ini benar-benar dari Musa.
Tei, apa kabarmu? Sebulan sudah kita tidak bertukar kabar. Aku telah melewati masa-masa sulitku dan berharap kau pun. Menelusuri jalanan Bandung, selalu menjadi rutinitas yang membuat dadaku serasa disumbat kelapa. Dengan serabut yang keluar, mencabik dadaku dengan halus namun pahit. Tapi semua itu telah (maksudku, harus) berlalu.

Tadinya aku ingin menyampaikan kabar ini secara langsung, tapi si Mbok bilang kau pindah dan aku tak tahu alamat barumu. Intinya... Aku, sedang mempersiapkan pernikahanku dengan Kalila. Mungkin terdengar terburu-buru, tapi kau tahu aku. Kau tahu apa yang kuinginkan dalam waktu dekat ini. Ayah semakin tua, penyakit pun terus menggerogotinya. Dia ingin menggendong bayi sebelum ajal menjemput.. Datanglah, aku telah memperjuangkan kedatanganmu dan bertengkar dengan Kalila. Aku ingin kau datang.
Bang-sat. MENIKAH??? Ohh, Musa.
Tergesa aku membereskan barang-barangku. Kupacu kendaraan untuk pulang. Pandanganku berbayang. Hujan masih deras, bahkan ketika aku sampai di parkiran apartemen. Aku membuka pintu, merasakan bulir hujan mulai membasahi sepatu, kaki, celana pendek, dan blouse kesayanganku. Juga rambutku.

Begini, ya, rasanya menangis di bawah hujan… Bulir hangat menyusuri pipiku. Satu, dua, tiga, dan tak terhitung lagi. Rasanya aku tak mampu melangkah. Mengapa kaki berukuran 35 ini tiba-tiba terasa berat? Aku menyelosorkan badan, memasrahkan diriku di bawah guyuran air. Tersungkur, tertunduk.

"Biarkan aku dengan kesendirianku. Mereguk racun yang kuseduh sendiri. Biarkan aku mengetuk pintu dan menyadari bahwa tak ada sesiapa untuk berbagi sendu. Ternyata memang bukan di sini," batinku. Segera, aku berniat mengepak barang dan pergi entah ke mana.

Deras hujan seketika berhenti. Hanya di atas kepalaku. Aku melongok dan menemukan sesosok lelaki berpayung besar berdiri di depanku, kemudian berjongkok dan memegang daguku. “Setahuku apartemen ini tidak pernah kehabisan air. Untuk apa kau membasahi dirimu di sini? Naiklah, ku antar kau ke kamarmu.” Pandanganku masih berbayang ketika ia bertanya, “lantai berapa?”

Ateira Niskala
l'appartemant 1501

KIDUNG

Debit air dari pancuran membangunkan ragaku dengan sempurna. Mungkin banyak orang yang benci terkena dinginnya air Bandung, apalagi di hawa selepas fajar. Sama sekali tidak aneh, karena cairan laksana calon es itu selalu membuat kulitmu takut, keriput, dan membuat bibir mengekerut. Tetapi, saya terlalu mencintai kesegaran pagi sampai-sampai mandi pun harus air dingin biar terasa kick start -nya.

Selesai juga badan saya yang bau apek bersolek. Minggu pagi ini akan terasa hambar apabila saya tak menyapa sang surya. Ia tak lagi berjaga di ufuk timur, sekarang posisinya sudah berada sekiar 45 derajat dari jendela apartemen 1506. Sambil membuka gorden lebar-lebar, tangan yang bersentuhan dengan rak buku ternyata ikut menjatuhkan sesuatu.

VOL. 4
Untuk Kahlua, dengarkan dengan hati
-bagdja.

"Apakabar, dja? Aku menepati janji kan? Yah.. walaupun agak tersesat di tumpukan buku, saya masih simpan semuanya. Terima kasih sudah memilihkan anthem hari ini," molonog dengan diri sendiri telah dilaksanan.

Bagdja Arisetyo, manusia dengan senyuman paling lebar yang pernah diciptakan. Pernah satu kali saya membawa mistar dan mengukur seberapa lebar bibirnya kala tersenyum. 6 centimeter jawabannya, jika kalian bertanya. Karena reflek senyumnya terlalu sensitif, saya hampir tidak pernah tahu kapan ia merengut dan bersedih. Bagdja, sama seperti senyumnya tidak pernah hilang dalam pikiran. Kalau otak bagaikan satu kavling dengan banyak ruangan (dan pintu), maka Bagdja (dan senyumnya) sukses saya masukkan ke satu ruangan khusus yang pintunya saya kunci dari luar. Tiada seorangpun masuk tanpa persetujuan empunya, yaitu saya. Memasukkan pria itu di sana bukan tanpa alasan, 5 tahun yang lalu ia pergi tanpa pernah kembali.

Lamunan saya terhenti di sini. Seakan tidak ingin membuang waktu, saya buka mixtape pemberian Bagdja dan memasukkannya ke mesin pemutar. Perlahan track no. 1 mulai mengalun merasuki udara seisi kamar. Oh ya, satu hal lagi, Bagdja sama dengan mesin waktu. Ia seperti hidup di masa lalu dimana Christine Hakim dan Slamet Rahardjo mencoba bertahan dari hantaman badai. Vol. 4 berisikan lagu-lagu lawas Indonesia tahun 70-an. Nama-nama seperti Purnama Sultan, Denok Wahyudi, Benny Soebardja, juga trio Bram-Dianne-Chris Manusama yang dikenal lewat lagu Kidung (dipopulerkan oleh alm. Chrisye).

"Terucap tanya dan doa
Adakah kenyataan..
Engkau lautan
ombak dan badai bawalah daku
Dalam nikmatmu"

Hentakan dan ketukan "Khayal" tidak membuat perasaan ku ikut berdendang riang. Ironis, justru di tengah hangatnya pagi juga gemuruh musik suka cita, badan ini terasa beku bak tenggelam di bak yang diisi penuh batu es. Kenangan tak pelak bagai bayangan, ia mengikuti kemanapun kakimu melangkah. Betapapun dirimu ingin bersembunyi darinya, selama ada terang bayangan akan terus berpijak di bawah telapak alam sadar. Bisa saja kau bosan bermain dengannya, namun apakah kau siap meraba dalam gelap?

bip bip

Car Free Day, Gedung Sate.
Sender: Kang Iwa
+6281109005

"Yaelah, Car Free Day cuma 2 jam aja pake diliput. Paling habis itu gasibu penuh lagi sama plat B. Liputan appeu nomor hiji," gumam ku sambil sedikit mengeluh.Tak lama kusiapkan seluruh perlengkapan pertempuran dan mencampuraduknya di dalam ransel. Akupun berjalan mendekati daun pintu.

"Jumpa lagi dengan Maissy di Jurnalisme eksplotasi!" Kraaakkk. O,o..sepertinya kaki yang dibalut converse hijau toska menginjak sesuatu , pandangan refleks menuju sumber (sepertinya) retakan.


“Castangel paling enak di dunia ini tentunya tidak gratis, malam minggu nanti bila tak ada acara, makan malamlah di kamarku. sekadar membuktikan bahwa setidaknya ada lima kue kering lagi yang mungkin lebih enak dari castangelku,

salam hangat, Kamar 1502.”




FPI, kopi, ingatan akan Bagdja, dan kali ini Castangel dari seseorang yang bahkan tidak saya kenal di balik pintu 1502. Kepala ini menoleh ke kiri dan kanan, menunggu siapa tahu ada sesosok badan yang bisa dijadikan tersangka karena menaruh kue kesukaan saya di depan pintu. Tubuh yang memikul ransel yang tidak terlalu berat pun bertekuk, mengambil kotak castangel seraya menjauhkannya dari alas kaki. Pasti ada sesuatu di balik ini semua, tapi untuk apa menolak lantas berpikir sinis, jika kita mungkin akan menemukan kotak pandora lain di dalam kamar 1502? Oke, Malam minggu dan saya pun tak sabar ingin bertamu.

7/11/10

Yang Tidak Seperti Biasa

In This Story: Mardi Wisesa

Masih ada jeda waktu beberapa saat menjelang undangan makan malam yang diberikan oleh sang 1502. Dan sejak kutemukan setoples kue kering darinya di depan kamarku, aku masih saja bertanya-tanya, bagaimana ia? Adakah ia orang yang baik dan ramah? Atau ia akan mengundangku makan dan kemudian membunuhku, seperti psikopat di film-film yang kutonton? Ah, mana mungkin di apartemen seperti ini ada psikopat.

Setelah membersihkan diriku dengan air hangat yang disediakan apartemen ini, aku segera bersiap. Aku akan mencari apa yang layak dibawa untuk pertemuan nanti. Aku, sesungguhnya, tidak sabar untuk bertemunya, sang pemilik kamar 1502. Bagaimana ya suasana makan malam nanti? Apakah hanya aku yang diundang dan kita akan beradu gelas champagne dengan menyesap keasaman dari anggur yang telah difermentasikan ditemani lilin-lilin yang menyala romantis? Atau akan ada kegaduhan karena seisi apartemen ini diundang? Apapun, tak masalah. Aku inginkan teman baru di lingkungan yang baru ini.

“Yang penting, kamu bisa keluar dari comfort zone, membuat comfort zone baru, atau sekedar meluaskan comfort zone dari yang selama ini ada,” begitu ujar seorang pemateri di kampusku dahulu.

Kata-kata itu masih sering terngiang di telingaku hingga kini. Hingga lima tahun terlewat setelah aku mendengar kalimat itu pertama kalinya. Itulah yang kujadikan patokan selama ini. Aku selalu melangkah dan terus melangkah pergi kesana-kemari. Entah pula itu suatu bentuk eskapisme dari kenangan-kenangan yang tak ingin kukenang. Atau memang aku pembosan yang mudah kehilangan hati pada segala sesuatu. Tapi sudah bertahun-tahun ini aku belum kehilangan hati padanya.

Maka, makan malam di penghujung minggu ini, semoga akan menjadi hal pertama yang menyenangkan selepas aku memutuskan pindah ke apartemen ini dua minggu yang lalu. Dan pikiran-pikiran tidak penting atas apa yang terjadi malam lalu di kafe itu bisa terhempaskan secepat-cepatnya.

Setelah berkaca selama setengah jam dan berganti beberapa baju, aku putuskan untuk segera mencari buah tangan untuk prosesi makan malam itu. Sehelai syal melingkari leherku, cuaca Bandung sekarang sedang tidak mudah ditebak. Siang hari panas menggigit kulit hingga pedih, sedangkan malam hari dingin hingga ke tulang.

***

Secara refleks, aku melangkahkan kakiku ke café langgananku. Dan secara refleks pula, seperti dihipnotis, aku memesan es cokelat. Seperti biasa, seperti biasa ketika aku bertemu ia di sini. Seperti biasa, seperti biasa ketika aku bertukar pengalaman dengannya hingga lupa waktu. Seperti biasa. Yang kuyakin menjadi tidak lagi biasa setelah peristiwa lusa kemarin. Memikirkan hal itu, es cokelat yang biasanya manis, pahit, dan creamy, menjadi tidak berasa apapun. Es cokelat ini pun tidak seperti biasa.

Kutinggalkan es cokelat yang masih setengahnya itu begitu saja. Baru kali ini aku menyesal mengangsurkan uang dua puluh ribuan pada penjaga kasir karena es cokelat yang kupesan tadi. Pikiranku langsung sibuk mencari café mana yang juga menyediakan es cokelat ciamik selain café ini. Selain café yang biasa kudatangi dengan dia. Ah, mungkin penghuni 1502 tahu, mengingat ia bisa menemukan caastangel yang rasanya luar biasa.

***

Toko kue yang kudatangi ini adalah toko kue juara satu, versi ibuku. Sebelum ia berpindah ke kampung halamannya, ia sering mengajakku ke toko ini. Ketika aku sedang tidak ada di rumah, ibu akan pergi sendirian dan membeli beberapa kue untuk kukudap ketika aku datang nanti. Sekarang sudah tidak ada ibu, ia memutuskan menjual rumahnya di sini dan pindah ke kampung halamannya yang seperti musim kemarau sepanjang tahun.

Kupilih kue kesukaanku, kue lidah kucing. Ada-ada saja makanan yang dibuat orang Belanda ini, pikirku, tapi rasanya memang enak. Semoga aku tidak tergoda untuk menghabiskannya sendirian di kamar. Ini untuk perjamuan makan malam nanti. Ini untuk bakal calon teman-temanku, siapa tahu dengan mereka akan ada yang berubah. Yang tidak seperti biasa.

Beruntung sore ini belum hujan, aku menikmati berjalan di trotoar jalan ini. Salah satu trotoar yang berukuran lebar dan masih digunakan sesuai fungsinya di Bandung ini. Salah satu dari sedikit trotoar yang berukuran lebar dan masih digunakan sesuai fungsinya di Bandung ini, kukoreksi kalimatku.

Daaaaaarrrrr.. kue kesukaanku terhempas ke lantai trotoar. Remuk.

Dan juga aku. Ada yang menabrak kakiku hingga aku kehilangan keseimbangan. Tumbukkan yang cukup keras hingga sakitnya membuatku mengerang. Ini dia yang tidak seperti biasa. Baru kali ini aku ditabrak motor di trotoar yang lebar dan masih digunakan sesuai fungsinya di Bandung ini. Harus kukoreksi pula rupanya kalimatku tadi.

Masih beruntung orang yang menabrakku mau bertanggung jawab, mengantarkanku ke rumah sakit terdekat. Itupun setelah didesak oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Biarlah.

Harus kubeli lagi kue lidah kucing juara satu itu. Harus. Untuk menjadikan segalanya tidak seperti biasa. Aku pun harus segera sembuh agar bisa bertemu dengan penghuni 1502. Agar aku selanjutnya bisa mendapati yang tidak biasa itu. Atau pertemuan itu tidak akan terjadi untukku? Dokter, aku bergantung padamu sekarang.

Bandung, le 11 Juillet 2010.

7/9/10

Benalu Pilu Masa Lalu



Cesss...

Satu batang rokok aku bakar. Mumpung tidak hujan, aku memutuskan untuk memerkosa segala tempat yang aku rindukan di Bandung sore ini, walaupun sebenarnya bukan pilihan cerdik untuk menikmati udara sore yang rindang ini dengan merokok. Ah, itu bukan ucapan dari diriku pastinya, karena semua perokok tidak pernah memikirkan tentang udara yang mereka ramu menjadi kotor akibat sebatang rokok yang mereka hisap.

Latihan tadi sungguh menguras energi, baik raga maupun batinku. Mas Raka, pelatih grup tariku sedang pusing tujuh keliling akibat satu personil grup yang sedang dirawat di rumah sakit. Demam berdarah kata dokter, sedangkan kami harus memulai latihan yang intensif: enam hari seminggu, lima jam sehari, dan akan terus berlangsung hingga sebulan mendatang. Grup Tari Wandanyata mendapatkan undangan untuk tampil di sebuah Pagelaran Kesenian Indonesia di Amsterdam, sebulan mendatang.

Perawatan Nuri, personil grup tariku yang sakit, tentunya akan memakan waktu yang tidak sebentar, belum lagi waktu yang ia butuhkan untuk pemulihan. Akibatnya, Mas Raka tak habis-habisnya mengucap kata ‘Amburadul!’ berkali-kali selama latihan dan air mukanya juga terlihat berantakan seperti wajah orang yang belum tidur+mandi berhari-hari. Aku dan kelima personil lainnya memutuskan untuk tetap melatih gerakan-gerakan awal seperti yang sudah tertuang dalam konsep, karena hari ini adalah latihan pertama kali. Setidaknya, formasi dan alur yang benar-benar membutuhkan kehadiran Nuri bisa diubah pada pertemuan selanjutnya. Ya, akhirnya aku dan personil Wandanyata lainnya harus menahan diri untuk tetap fokus pada latihan sekaligus meladeni Mas Raka yang memang seperti orang gila kerasukan setan jika ia terserang panik.

Hingga tadi latihan selesai pukul setengah 5, aku belum ingin pulang dan memutuskan untuk nemplok sebentar di salah satu kafe asri di kawasan Ciumbeuluit. Aku butuh ketenangan sesaat dan beberapa gelas teh sambil menatapi kehijauan di area kafe ini. Hmmmm…puuffff… sejenak aku memejamkan mata dan menghirup-hembuskan asap rokokku.

**

Aku ingin sedikit bercerita mengenai batang ini. Mengingat jenis rokok yang aku hisap bukan rokok putih atau rokok dengan keterangan ‘mild’, melainkan rokok yang biasa diidentikkan dengan bapak-bapak perokok berat, supir truk/bus dan jenis profesi ‘kasar’ lainnya, aku sering menerima celetukan-celetukan bernada heran, sinis, tak jarang sarkas, atau seratus persen heran (lagi).

“Ih, rokok lo kayak kuli!” satu jenis ujaran yang pernah aku terima, atau,

“Kebanyakan gaul sama supir truk, Neng?” jenis sindiran lain. Pernah juga,

“Perempuan kok rokoknya seperti bukan perempuan?” ujaran halus yang lebih bisa kuterima ketimbang,

“Perempuan kok merokok?”

Yah, masih banyak pertanyaan atau sindiran serupa yang intinya hanya membicarakan masalah sepele yaitu sebatang rokok yang bahkan tidak lebih besar dari penis laki-laki. Perjalanan sejarah aku dan rokok sebenarnya cukup menarik untuk diceritakan. Bukan bagaimana awalnya aku merokok yang menarik, tapi rokok apa saja yang telah aku hisap selama ini menyiratkan cerita yang berbeda-beda pada kurun waktu tertentu.

**

“Aku minta!” ujarku lalu mengambil batang rokok dari bungkus merah tua bergambar pabrik itu. Ia melotot ke arahku, mimik muka terkejut, “Kamu kayak supir truk!” jeritmu. Aku terdiam, menyalakan pemantik api tepat di depan hidungmu sehingga apinya membuat kau terkedip, antara kaget dan kepanasan. “Berarti tunangan aku supir truk!” jawabku sewot lalu tetap membakar rokok. Hingga seterusnya, aku pun merasa ketagihan dan mengganti rokok mentholku dengan rokok yang sama dengan milikmu. Ternyata tindakanku ini membawa berkah bagi kita berdua: sehari satu bungkus untuk berdua, jelas anggaran bulanan kita menghemat.

“Ara, katanya mau mandi?” tanyamu ketika suatu waktu aku bermalam di kosanmu.

“Iya, satu batang lagi,” jawabku sambil membakar rokok. Kamu mendekat, memelukku dari belakang, “Satu batang berdua, habis itu kita mandi bareng,” ujarmu mesra di daun telingaku yang tertutup oleh rambut. Aku menggidikkan bahu, kegelian, lalu terkikik, “Oke,”

**

“You have one new message...” nada SMS masuk membuyarkan lamunanku. Astaga, abu rokok sudah menggunung kaku di atas filter cokelat, menunggu angin menerpa dan membuyarkan abu itu jatuh berserakan ke jariku. Aku ketukkan batang rokok perlahan dan membuang semua abu yang membentuk gunungan silinder itu lalu membaca pesan masuk:

“Lo uda di bdg? Lama nih g ktmu, kinda miss pillow talk in this lonely flat.”

Nama kontak ‘Elora Oriana’ tertera di bagian paling atas layar sebagai pengirim pesan. Ah, ya, sejak kepulanganku ke Bandung aku belum sempat bertemu dengan tetanggaku itu. Kami biasa menghabiskan waktu semalam suntuk hanya berbicara panjang lebar mengenai mimpi hidup dan tak jarang siapa yang bisa membuat kami masturbasi paling cepat. Aku memutuskan untuk tidak membalas, biar nanti aku langsung hampiri dia di apartemen. Memori yang aku lamunkan barusan kembali merasuk. Sisa batang rokok yang sudah aku tekan dan matikan di asbak menyisakan filter cokelat dan menggambar sketsa wajahnya, Adya. Aku coba tepis, tepis, tepis! Ah, setan alas! Tidak bisa!

Bodoh kau Ara! Oh, Avara! Baru saja memarahi pikiranku sendiri, bahkan aku salah menyebut nama panggilan untuk diriku sendiri. Ara adalah panggilan dari Adya, hanya dia yang memanggilku demikian, orang lain biasa memanggilku Kyna.

Ya, bodoh kau Kyna! Bagaimana mungkin kau berada di tempat ini namun tak teringat dia?! Jeritku dalam hati. Ia yang membawamu mengenal pepohonan yang menaungi saung di kafe ini. Ia yang mengenalkanmu dengan tempat ini yang kaya dengan ragam pilihan tehnya! Bodoh!

Aku bersandar pada sisi saung, menghela napas, berat. Tak niat lagi aku untuk merokok. Tak niat lagi aku untuk mengingat kisah-kisah lainnya tentang perjalanan rokok apa saja yang pernah aku hisap. MEMORI SETAAAANNNN! KAMPUNGAAANNNN!! MEMORIIII RACUUUUNNN KEWARASAAAN! Mati-matian aku menjerit, ngamuk dalam hati. Aku putuskan segera beranjak dari tempat ini. Awan mulai menggelap, megap-megap kehabisan sinaran cahaya matahari, nyamuk mulai menggerogoti mereka yang berdarah di sini.

Siap menyalakan mesin mobil untuk aku pacu kembali ke apartemen, dua sosok keluar dari mobil sedan hitam itu. Mobil tersebut diparkir tepat di seberang mobilku. Begitu sialnya aku harus mengenali sosok yang pertama keluar dari pintu pengemudi. Begitu sialnya aku di hari petang ini harus melihat sosok itu menggandeng perempuan mungil hitam yang keluar dari pintu kiri. Mesra, bergandengan tangan, mereka berjalan menuju bagian dalam kafe.

Genderuwo terkutuk! Rambutmu seperti genderuwo rasanya ingin kubakar! Makiku. Adya tak lagi mengenali mobilku karena memang ini bukan mobil yang sama dengan ketika kami masih menjalin kasih, tepatnya ketika ia masih yakin bahwa aku adalah calon istri yang tidak akan ia temukan di dunia ini, kelak. Aliran darahku menderas, mengaliri pembuluh darah di bagian dalam lapisan kulitku, menanjak menuju kepala, membuatku ingin memecahkan kepalaku yang terasa menjelma menjadi jamur raksasa dan siap memuntahkan cairan pekat berisi racun yang mampu membunuh sepasang kekasih di depan mataku ini. Adya dan kekasihnya, Adya, Adya, Adya, Adya yang dulu kekasihku!

image via: leilockheart

Sigap aku segera mengendarai mobil keluar dari parkiran kafe tersebut, langsung mengarah menuju apartemen. Sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya menghela napas dan mengaturnya agar terkontrol kembali. Dalam pikiranku berputar kembali semua tentangnya, Adya. Sederet makianku terhadap diri sendiri pun tak kalah hebatnya kulafal,

“Setahun aku rutin pergi ke kafe itu kenapa lo harus muncul sore ini sih, setan?!”

“Kenapa harus inget-inget kisah rokok di kafe itu dan tiba-tiba lo muncul sama si pembantu satu itu sih monyet?!”

“Lamar aja tu cewe di kafe itu, bangsaaaaaaaaaaaattttttttttttttttttttt!!!!!!!!”

**

BUUUUUKKKKK...

Bunyi bemper keras menghantam palang besi pembatas parkir di basement apartemenku. FUCK!

Aku terlalu asyik memikirkan Adya hingga tidak melihat bahwa kapling parkir yang hendak kumasuki dihalangi oleh besi dan dengan sukses aku menabrakkan mobil jipku ke sana. Baru saja aku hendak keluar dari mobil, telepon selularku kembali bersuara, menandakan satu pesan baru masuk.

“Avara sayang, tante dan om sudah menunggu setengah jam tapi kamu belum datang juga. Lain waktu saja kamu ke rumah ya sayang. Om dan Tante ada acara malam ini. Kue kering dari Belgia oleh-oleh untukmu masih kami simpan di rumah kok, tenang saja. Kecup hangat,

Om Joko dan Tante Nyla.”


Ah, Tuhan! Sungguh setan apa yang merasuki saya sore ini? Maksud hati ingin menenangkan pikiran setelah latihan yang melelahkan, mengapa aku malah mendapati petaka dan kejadian tak menyenangkan? Batinku dalam hati, lemas.

Mengapa pula aku jadi lupa kalau om dan tante mengajak aku ke rumahnya gara-gara sibuk memaki Adya? Padahal bisa jadi kue kering itu lebih enak dari castangel kamar 1502 dan bisa kubawa akhir minggu ini. Belum tentu mereka bisa menungguku ke rumahnya besok dan lusa, bisa jadi minggu depan. Lanjutku sambil menyesali kejadian beruntut yang menimpakan sial padaku.

Aku belum keluar dari mobil untuk mengecek keadaan bemper jipku. Walau mobil ini tangguh dan gagah, tapi perasaan telah menabrakkan mobil dengan sengaja terasa begitu tolol dan menyesakkan.

Terduduk lemas aku di jok mobil, telepon selular kulempar begitu saja dengan tak bertenaga. Tak lama, aku menyadari dari kejauhan ada seorang gadis yang berjalan pelan sambil menatapku penuh keheranan. Entahlah, aku sadar aku tampak aneh dan tak wajar, namun aku pun tak berniat berbasa-basi kepada gadis itu. Aku hanyut dengan pikiranku sendiri.....

Tepukan telapak tangan seseorang membangunkanku,

"Kamu tertidur di parkiran, sudah 15 menit kamu tak beranjak dan pintu mobil terbuka begitu saja!" serunya. Gadis itu, gadis yang tadi sedang memerhatikanku dari kejauhan. Aku belum pernah melihat wajahnya, tapi dari pembawaannya, sepertinya ia penghuni entah lantai berapa. Aku terlonjak dan mengumpulkan nyawa sembari mengucap terima kasih padanya,

"Ah, ya! Terimakasih, duh, pasti aneh. Aduh, kok bisa tidur.." ujarku berkelit-kelit. Ia mengangguk sambil tersenyum lalu pergi begitu saja meninggalkan aku yang segera membetulkan parkiran mobilku.

Klik, bundaran berisi tulisan lantai 15 sudah aku tekan.

Sendiri dalam lift dan pikiran mengawang, aku mengutuk hari ini, aku mengutuk diriku sendiri yang dalam sepersekian detik hancur lebur tak keruan hanya karena sosok Adya dan segumpal memori yang melangsungkan lomba sprint di ingatanku dan membuat akal sehatku terbirit-birit ngacir dari habitatnya. Aku merutuki sejarah dan segala sesuatu yang tak bisa kembali ke pangkuanku, aku merutuk dan mengutuk waktu yang telah berlalu!

Bak setan, memori masa lalu tertawa lebar mendapati manusia tak sanggup mencabut benalu pilu tentang dahulu yang memasung pengampunan, mengelu-elu dendam.


***

Avara Kyna

#1504

tagged by: Elora Oriana Dalilah

Memori Diujung Hari

in this story : AVARA KYNA

Beberapa hari ini aku hanya mengistirahatkan tubuhku 4 jam dalam satu hari.ada beberapa tugas kantor yang memerah keringat dan tenagaku hingga peluhku terasa sungguh asin. Dalam 1 hari aku harus berpindah tempat hingga 5 kali. Belum lagi Bandung yang kini sudah tak selengang dulu membuat jarak tempuh antar tempat jadi terasa lebih jauh.lelah? Tentu saja, Tapi cukup mujarab untuk mengalihkan pikiranku dari imajinasi-imajinasi handal yang sungguh terasa sangat nyata.

Sesungguhnya pekerjaanku tidak akan seberat ini jika aku memilih untuk menyelesaikan pembicaraan dgn klien menggunakan teknologi komunikasi yang kini sudah mulai meluber. Tapi bagiku, personal approach selalu menghasilkan sesuatu yang maksimum. Aku bisa melibatkan seluruh inderaku untuk melakukan persuasi pada calon klien-ku. Alhasil, aku dituntut lebih lincah dan enerjik serta kreatif.

ada 7 calon pengantin di 7 tempat yang berbeda dengan 7 konsep yang lumayan menguras ide yang harus aku rampungkan dalam waktu 2 minggu ini. belum lagi konflik internal yang terjadi pada beberapa pasangan yang mengalami stres menuju jenjang serius yang akhirnya berpengaruh pada konsep yang tiba-tiba mereka rubah seenak jidat padahal hampir 98% persen persiapan sudah rampung.

lucu rasanya ketika meeting dengan calon pengantin lalu mereka berselisih pendapat mengenai sketsel warna apa yang akan dipilih, dekorasi bunga atau minimalis, menggunakan adat daerah atau modern, hingga sendok seperti apa yang akan digunakan pada resepsi pernikahan mereka. belum lagi jika para calon mertua sudah turun tangan ikut menentukan segala hal. rasanya aku ingin bertanya, apa sih konsep 'pernikahan' yang ada di pikiran kalian? sebuah prosesi khidmat dan khusyuk atau sebuah pagelaran sandiwara yang menampilkan segala kemewahan hingga membuat kalian mengeruk tabungan hingga minus dan pinjam sana-sini demi satu hari megah dan lelah di kemudian hari ketika pernikahan ternyata tak berjalan mulus? namun, dibalik segala keruwetan klien yang terkadang menular padaku bukankah aku mampu mendapat banyak keuntungan? hahaha.

setibanya di apartemen tulang seperti lepas dari sendi. tak bertenaga, lusuh karena tadi si merah (mobil yang kubeli dengan uang dendam) berulah. aku menghempaskan tubuhku keatas kasur dengan seprai coklat kesayanganku. aku suka memandangi ruang apartemenku sekedar mengingatkanku bahwa aku sungguh beruntung memiliki tempat tinggal yang lebih dari sekedar layak. pandanganku terhenti pada toples berisi castangel pemberian penghuni kamar 1502. aku sudah sering bertemu muka dengannya ketika aku hendak keluar dan masuk kamar karena kamar kami bersebelahan. tapi kami belum mengenal satu sama lain, namun entah mengapa, aktifitas bertemu di lorong kamar atau didepan lift dengannya mengingatkanku pada sesuatu. ah sudahlah. ini sudah hari rabu, masih ada 3 hari untuk mencari kue yang lebih enak dari kue miliknya dan instingku mengatakan tak hanya aku yang ia undang, maka beruntunglah, atas kebaikan hatinya mengundang kami, kami punya ruang dan tempat untuk bercengkerama. tentu saja, aku rindu pada avara kyna. sudah lama aku tak mengadu kepulan asap dengannya. membentuk lingkaran-lingkaran kecil dari sebatang roko yang kita hisap , menyentuh lingkaran itu lalu menatap perubahan bentuk abstrak dari setiap hembusan nikotin.

malam ini tubuhku lelah, tapi pikiranku gelisah, seperti ada riak-riak kecil di dadaku yang tak terhitung jumlahnya. sedikit bertanya-tanya, adakah manusia dilantai ini yang mengalami hal yang sama dengaku detik ini? jika ada mari kita bertemu, berbagi riak dan dentuman hebat sepergi gejolak lava panas bumi. tak jarang aku merasa, memori itu lebih jahat daripada kenyataan,mampu meruntuhkan tembok yang megah dan kokoh. padahal, banyak orang yang justru mengamini bahwa kenyataan itu jahat bahkan terkadang jahanam. tapi lebih dari itu, memori itu membawaku pada satu titik dimana aku harus mengkombinasikan hati, pikiran dan emosi pada waktu yang sama, yang tentu saja sulit. memori yang menggiringku ke tempat ini dan akhirnya justru tertinggal sendirian. tapi manusia tidak pernah sendirian, meski ia berteriak lantang minta ditinggalkan dan mampu hidup sendiri.


setelah menghapus eyeliner biru dari mataku lalu membasuhnya dengan aliran air segar yang mengucur dari wastafel. aku hisap sebatang malboro merah. ini batang pertamaku setelah 2 minggu lamanya. ini hisapan pelampiasan rindu pada sensasi yang menyeruak di setiap kepulan asap. ya, rindu yang sengaja kubuat, rindu yang sengaja kutahan, agar aku mampu menikmatinya secara utuh.

selamat malam bandung. selamat malam lantai 15. selamat malam memori.
kuhaturkan terimakasih telah mewarnai malamku.

elora oriana dalilah
dari lantai 15
1503

7/6/10

l'appartemant 1500

Lagi-lagi mimpi buruk. Keringat bercucuran dan jantung berdetak dengan sangat cepat. Saya miringkan badan untuk meraih jam digital di samping tempat tidur. Pukul 3 dini hari dan saya baru tertidur 2 jam. Bayangan masa lalu itu kembali menghantui ketenangan jiwa saya.

“Kamu gak apa-apa sayang?”

Saya kaget mendengar suara itu. Suara yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Sangat asing.. Ohhh, saya ingat sekarang. Dia adalah Daniel Siregar, perancang adi busana yang sedang naik daun di negri ini. Tadi malam saya menjadi model catwalk baju rancangannya di sebuah peragaan busana paling akbar di kota ini. Saya memang berprofesi sebagai model. Model murahan yang bisa ‘dinikmati’ 24 jam dengan bayaran selembar cek senilai 30 juta. Dan itu minimal. Saya pernah mendapatkan 3 kali lipat dari itu. Entah si Daniel jelek ini akan membayar saya berapa. Pria ngondek berperawakan sangat Batak. Aneh rasanya dengan muka garang seperti itu bisa sangat ‘melambai’. Senyum tipis.

“Kok kamu tersenyum? Tadi malem enak banget. Kamu memuaskan.”
..diam.. “Aku pengen kamu pergi dari sini sekarang.”
“Kenapa?”
“Aku bilang, PERGI! Jangan lupa tinggalkan ceknya di meja ruang TV.”

Perancang ngondek itu sepertinya ketakutan dan langsung terbirit-birit mengenakan bajunya lalu kabur. Entah dia tinggalkan ceknya atau tidak. Jika tidak, siap-siap saja besok dia sudah tinggal nama.

via (ache)

Saya tinggal di apartemen ini seorang diri. Dari hasil keringat saya. Literally. Keringat yang saya keluarkan di tempat tidur ini. Saya sudah selayaknya gigolo. Terserah saya mau dipanggil apa. Profesi model tidak akan mampu memenuhi gaya hidup konsumerisme saya. LV, Hermes, Gucci dan semua merek ternama dunia menghiasi kloset saya. Saya gila belanja dan senang kemewahan. Saya harus hidup dalam gemerincing koin emas dan bermandikan berlian. Saya tidak bodoh, saya sarjana kedokteran sebuah universitas berplat merah terbaik di kota ini.

Nama saya? Mereka biasa memanggil saya, boy toy.


***

Saya terbangun ketika sinar matahari mulai masuk ke dalam ruang tv. Saya tertidur di sofa setelah mencoba tidur kembali sambil 'ditonton' tv. Salah satu contoh pemborosan energi yang tidak patut ditiru. Berjalan setengah sadar, saya langsung membuka kulkas untuk menghabiskan sekaleng bir bintang. Saya bakar sebatang rokok kemudian duduk kembali di sofa untuk melihat berita terbaru hari ini. Saya terbiasa sejak kecil untuk selalu sarapan berita di pagi hari. Mengenai sarapan bir, itu kebiasaan buruk yang membuat perut saya tidak sixpacks seperti dulu. Buncit!

Satu jam lagi saya ada jadwal pemotretan di sebuah studi foto kawasan Antapani. Semoga tidak macet. Tidak sempat jika saya mandi karena sekarang sudah jam 12, dan pasti mobil membludak di jalan seperti semut yang siap-siap menyerbu gula untuk dimakan. Untung saja saya tidak memiliki masalah bau badan, sehingga tidak mandi pun tidak masalah bagi saya. Mengenai bau badan, beberapa pelanggan saya dulu pernah bilang saya memiliki pheromon yang kuat. Zat apalah itu yang membangkitkan gairah seksual. Yahhh mungkin hanya rayuan gombal. Senyum.

Saya buka kloset. Baju apa yang harus saya pakai? Suasana di luar sangat panas. Lebih baik saya kenakan kaus v-neck tipis keluaran Armani, celana jeans ketat Cheap Monday dan flipflop Zara. Apalah flipflop itu, saya juga kurang tahu sebenarnya jenis apa, pokoknya sepatu yang tinggal masuk. Saya simpel, tidak suka yang ribet, apalagi iket-iket tali sepatu. Tapi merek, real merek, bukan 'merek' ya, sangat saya junjung tinggi. Harga tidak pernah bohong kok. Ok, now I'm ready untuk mengadu nasib. Mengadu apa, ngadu ke siapa juga.


***

"Setan!!!"

Saya tersandung sesuatu. Orang bodoh mana yang menaruh ini di depan pintu orang. Hah ada undangan makan malam. Mungkin dari fans. Fans yang tidak tahu rasa sopan santun, kenapa tidak mengetuk pintu saya saja. Saya kan tidak sesombong itu. Memberi undangan makan malam tapi hanya membubuhkan nomer kamar. Saya seperti pelacur saja.. Padahal memang iya.

Siapa sih kamar 1502 ini. Sok misterius! Tidak ada yang lebih misterius di apartemen ini dibandingkan saya harusnya. Saya hanya menempati apartemen ini setiap minggu terakhir tiap bulan. Ohhh pasti dia ingin berkenalan sama saya. Yahhh terus saja pikiran ngalor ngidul. Ah untuk apa juga dipikirkan..

Ting. Bunyi lift. Ting.

Saya sampai lantai dasar apartemen. Dipersimpangan menuju pintu keluar akhirnya saya putar arah ke meja satpam.

"Teh, kamar 1502 itu kamar siapa ya?"

"Kenapa memang, Pak?"

"Ya ampun, saya setua itu ya? Panggil nama saja cukup kok. Panggil saya Julian."

"Oh iya maaf.. Pak, eh maksud saya Julian.. Memang kamar 1502 mengganggu?"

"Gak sih. Saya ingin tau aja.."

"Mardi Wisesa.."

"Eh?"

"Iya, namanya M-A-R-D-I W-I-S-E-S-A"

"Ahhh I see. Nuhun ya Teh."

Mardi Wisesa. Hmm namanya tidak asing. Siapa ya? Apa pelanggan saya dulu? Ah bukan. Namanya kurang 'ningrat' untuk mengeluarkan cek 30 juta. Seperti apa ya dia? Kenapa saya jadi penasaran gini sih. Norak. Sudahlahhh liat saja minggu depan apa dia bisa membayar saya 30 juta setelah makan malam.

Berlalu sambil membuka laman Google di smartphone. Typing, Mardi Wisesa. Search!

Another 30 million. See ya Mardi Wisesa :)


Julian Sastradinata

l'appartemant 1501

Berapa harga yang harus kau bayar untuk sebuah cita-cita?

via (ache)

Menjadi perempuan yang bekerja untuk kebutuhan dirinya, bisa jadi hal yang membanggakan. Apalagi jika pengetahuan dan daya nalarnya berada setidaknya tepat pada garis rata-rata. Tapi apa yang dicari dari semua itu? Hal tersebut mengusikku karena pembicaraan di messenger tadi siang. Habislah aku dibego-begoi seorang sarjana hukum yang baru beres yudisium dengan peringkat sangat memuaskan tapi sama sekali tidak tahu pasal apa saja yang dikenakan untuk menjerat Ariel.


Segelintir orang memang percaya bahwa pasangan yang mapan merupakan modal awal untuk menikah. Kira-kira, berapa perempuan rela meninggalkan pekerjaannya demi lelaki mapan yang sangat dicintai? Ahhh, jangan bilang aku sendirian yang bodoh di dunia ini. Ya, aku meninggalkan lelaki yang kucintai demi pekerjaanku yang masih dalam impian. Cih, ketika melafalkan kalimat tadi, aku baru sadar bahwa sepertinya aku adalah perempuan terbodoh di dunia! Sudah merasa hebat, apa?

Aku masih bermain dengan pikiran-pikiran sendiri ketika kuhempaskan tubuh ke atas kasur dan membenamkan kepalaku di bawah bantal. Memalukan jika terdengar kamar sebelah. Kemungkinannya dua, aku disebut uber-pathetic atau disangka makhluk beda dunia. Syukur-syukur dia sudah tidur. Beda dengan seorang hippies penghuni kamar seberang lift sana yang baru pulang sekitar pukul 04.00 sambil setengah mabuk dan menggenjreng gitar tak bernada.

“Kebahagiaan seperti apa sebenarnya yang kamu cari?” bisikku lirih. Jika dipikir-pikir, mengapa aku bisa menolak lamaran Musa hanya karena ingin tetap bekerja setelah menikah nanti? Padahal arsitek muda yang tergabung dengan Artsicraft Group dan punya banyak klien kakap pasti mampu membiayai kehidupanku lebih dari cukup. But still, the idea of being jobless in a life after wedding sama sekali tidak terlintas di pikiranku.

Di tengah kegulitaan kamar yang baru kutempati sejak dua pekan lalu, aku membuka laci terbawah lemari dan mengeluarkan sebuah foto. Lekat-lekat, aku memandangi sosok yang dalam kegelapan seperti ini menjadi sedikit mirip Ariel Peterpan. Usiaku dan Musa terpaut lima tahun, dan aku kembali menyadari bahwa, ya, aku memang masih muda walaupun Musa sudah dipenghujung kepala dua. Aku belum mau menikah. Maka perpisahaan kami dan pertemuan Musa dengan Barbie sialan itu tepat.

Membayangkan si Barbie generation itu, aku bisa tertawa miris dan lelah tak habis pikir. Bahwa ada orang yang tidak perlu berbuat banyak untuk mendapatkan kebahagiaan. Mereka mendapatkan jalan pintas bebas hambatan menuju apa yang mereka inginkan, ketika orang lain harus menempuh jalanan terjal memutar.
***
Begitu terbangun pukul 11 pagi, aku segera duduk di depan laptop. Menyambungkan koneksi internet sambil menyalakan sebatang rokok. Inilah enaknya hidup sendiri. Batinku sambil tetap menyesap rokok. Dua pekan di sini, aku sama sekali belum melihat pemilik kamar-kamar yang selantai denganku. Inikah individualistis apartemen yang selalu kuharapkan? Halaman utama surelku menunjukkan satu pesan baru dan aku belum mau membukanya. Aku lebih tertarik membuka facebook dan melakukan guilty pleasure baruku.

Stalking ke facebook Musa. Bagus! Sejak kapan Musa membuat status-status lembek. Dan, aww wall-wall cheapy-cheesy. Ditambah profile picture sun-sun pipi gitu. “Oh come on Musa! Gak bisa cari yang lebih baik untuk gantiin saya?” Rasanya aku ingin teriak ke telinganya. Ha-ha-ha. Kembali aku membatin. “Sensi banget. Berasa sendirinya udah bener aja.” Ayolah, better stop this bitter joke!

Toh pada akhirnya harus kita putuskan. Untukku, ini ibaratnya memilih antara menyerahkan diri sepenuhnya pada orang lain atau mengembangkan kepercayaan diri bahwa semuanya bisa dijalani. Time really is flying after all. Kita semakin tua, lebih baik berhenti membuang-buang waktu dengan orang yang belum tentu dapat menghargai kita.

Aku menutup halaman facebook bersamaan dengan menutup satu babak drama hidupku. Selamat merajut istana impian, Barbie and Ken… Ups, Musa!


***

Pukul 1 siang aku sudah mandi dan bersiap mencari makan. Ada yang berjalan dan berdetak cepat di dadaku. Setelah seminggu lebih aku mendekam di kamar dan menguras dompet dengan makanan delivery service, kini aku yang akan bergerak sendiri menuju makan siang. Mari taklukan dunia luar! eh! Aduh, hampir tersandung.

Debaran jantungku kembali mengencang. Musa memberikan paket manis di depan pintu kamar apartemenku! Tidak mungkin! Dia tidak pernah seromantis ini! Aku mencoba menangkis harapan sebesar bola basket yang mulai menyesakkan dada.

….Ha-ha-ha. Ternyata memang tidak benar. Ini bukan Musa.
"Castangel paling enak di dunia ini tentunya tidak gratis, malam minggu nanti bila tak ada acara, makan malamlah di kamarku. sekadar membuktikan bahwa setidaknya ada lima kue kering lagi yang mungkin lebih enak dari castangelku,

salam hangat, Kamar 1502.”
Sebuah kejutan yang mengejutkan. Aku selalu berpikir bahwa hidup di apartemen akan menyenangkan karena semuanya individualistis. Namun setelah dua pekan ini, diam-diam aku merasa kesepian. Aku beranjak mengetuk pintu di seberang kamarku. Tapi urung, lebih baik ikuti aturan mainnya. Sampai jumpa malam minggu! Langkahku menuju makan siang lebih ringan dan aku merasa ion-ion positif dalam tubuhku sedang berreproduksi.***